Rabu, 27 Agustus 2014

News / Regional

Pertanian

Bulog Sumsel Fasilitasi Kredit Petani

Sabtu, 30 Maret 2013 | 17:24 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com — Badan Urusan Logistik Divisi Regional Sumatera Selatan (Bulog Divre Sumsel) memfasilitasi pinjaman lunak kepada petani sawah seluas 513 hektar di Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin. Hasil panen dari sawah tersebut langsung digunakan mengisi gudang beras Bulog.

Cara ini dilakukan guna mengatasi sulitnya pemenuhan stok beras Bulog Sumsel selama ini.

Kepala Bulog Divre Sumsel, Bambang Napitupulu, mengatakan, total nilai kredit lunak tersebut mencapai Rp 2,5 miliar. Pinjaman dilakukan di Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui skema kredit ketahanan pangan dan energi (KKPE) dengan bunga empat persen setahun.

"Besaran kredit berupa uang ke petani bervariasi, Rp 2 juta hingga Rp 6 juta, sesuai kebutuhan," kata Bambang, Sabtu (30/3/2013), di Palembang.

Program ini meliputi 385 petani di 18 kelompok tani. Dalam skema ini, tak semua dana diberikan tunai kepada petani. Sebagian dikucurkan dalam bentuk sarana dan prasarana pertanian, seperti bibit, pupuk, dan pembasmi hama. Pengadaan sarana dan prasarana pertanian oleh Bulog itu diupayakan tepat waktu.

Selama ini, kata Bambang, salah satu kendala pertanian adalah terhambatnya distribusi sarana pertanian yang berdampak pada keterlambatan pengolahan sawah. Kondisi ini dapat berdampak pada panen yang tak optimal. Penyaluran tepat waktu ini diharap dapat meningkatkan panen dari rata-rata 4,3 ton gabah kering giling (GKG) menjadi 5 ton GKG.

Bambang mengatakan, Bulog Sumsel berperan sebagai pembeli beras hasil panen. Seluruh panen petani di desa itu dibeli secara langsung di desa tersebut.

Guna melengkapi program ini, Bulog Sumsel telah membangun gudang beras di desa itu dengan kapasitas 3.000 ton atau sekitar 9.000 ton setahun. Hal ini mengatasi kesulitan Bulog Sumsel memenuhi stok beras.

Tahun lalu, dari target 74.000 ton beras, hanya terpenuhi 69.000 ton beras. "Luasan sawah di satu kecamatan itu saja sudah mampu memenuhi target stok beras Bulog Sumsel selama setahun," kata Bambang.

Hingga Maret, 80 persen hasil panen perdana sawah-sawah tersebut telah masuk ke gudang Bulog. Sebanyak 20 persen sisanya masih menunggu masa panen.

Pembelian langsung di tempat juga memotong distribusi perdagangan beras. Selama ini, panjangnya distribusi beras memakan banyak biaya dari petani sehingga mengurangi keuntungan panen. Oleh karena itu, meski dibeli dengan harga eceran terendah, petani tetap bersedia menjualnya secara langsung.

Program ini juga dilengkapi dengan bantuan peralatan pascapanen dari Kementerian Pertanian berupa 95 traktor tangan, lima alat pemanen besar (combined harvester), dan 513 lembar terpal jemur.

Alat bantu pascapanen membuat proses panen jauh lebih cepat, yaitu dari dua hari per hektar menjadi setengah hari per hektar, dan mengurangi tenaga kerja dari 30 orang per hektar menjadi dua orang per hektar. Hal ini diharap mengurangi kerugian dari gabah yang tercecer dan rusak akibat lamanya proses panen serta tingginya upah buruh panen.

Selain itu, program intesifikasi pertanian di Sumsel juga meliputi gerakan peningkatan produksi pangan berbasis korporasi (GP3K) pada sawah seluas 132.000 hektar. Program ini dijalankan oleh tiga perusahaan, yakni PT Pupuk Sriwijaya (PT Pusri), PT Sang Hyang Seri, dan PT Pertani. "Dana dihimpun dari badan usaha milik negara yang ada di Sumsel," kata Sekretaris Perusahaan PT Pusri, Zain Ismed.


Penulis: Irene Sarwindaningrum
Editor : Nasru Alam Aziz