Rabu, 22 Oktober 2014

News /

TRADISI KEAGAMAAN

Ritus Kure, Jejak Awal Penyebaran Katolik di Timor

Kamis, 28 Maret 2013 | 03:32 WIB

Gereja Katolik di Nusa Tenggara Timur usianya kini sekitar 500 tahun. Catatan itu merujuk kunjungan perdana pedagang bersama misionaris Katolik asal Portugis ke Timor dan Solor pada abad ke-16 setelah armadanya menguasai Malaka tahun 1512. Ritus kure yang hingga kini tetap bertahan di Noemuti Kote adalah jejak awal penyebaran Katolik di Timor. FRANS SARONG

oemuti Kote adalah kampung tua dalam wilayah Kelurahan Noemuti, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara di Pulau Timor bagian Nusa Tenggara Timur. Posisinya sekitar 180 kilometer sebelah timur Kota Kupang atau 18 km sebelum Kefamenanu, kota Kabupaten Timor Tengah Utara. Kampung itu sekitar 2 km dari persimpangan jaringan jalan utama Lintas Timor di Bijeli, kampung tetangga Noemuti Kote.

Gereja Katolik NTT sebenarnya masih menyisakan dua ritus tua yang merupakan jejak awak penyebaran Katolik di kawasan itu. Satu lainnya bernama semana santa di Larantuka, kota Kabupaten Flores Timur. Apakah semana santa atau kure, kedua tata cara keagamaan itu, sama-sama peninggalan Portugis. Juga sama-sama digelar oleh umat Katolik serta merupakan rangkaian perayaan Paskah.

Bedanya, semana santa berlangsung pada Jumat Agung. Wujudnya berupa prosesi atau perarakan patung Bunda Maria dan patung kanak-kanak Yesus, sarana keagamaan Katolik peninggalan Portugis. Kegiatan prosesinya menyinggahi 14 titik perhentian yang lazim disebut armida. Inti perayaan itu sebenarnya mengenang kepedihan Bunda Maria ketika menyaksikan kisah penghakiman atas putranya, Yesus, hingga wafat di kayu salib di Golgota. Ritus tua itu adalah jejak awal penyebaran Katolik di Flores.

Agak berbeda dengan semana santa, ritus kure di Noemuti Kote puncaknya berlangsung pada Kamis malam atau sesaat setelah umat mengikuti perayaan Kamis Putih di gereja setempat. Wujudnya, mereka secara bersama dan sambil berdoa mengunjungi 18 ume mnasi (rumah induk suku-suku) di Noemuti Kote. Jumlah ume mnasi itu merujuk jumlah suku sebagai ahli waris pendukung ritus unik tersebut.

Tidak langsung bubar

Tetua utama di Noemuti Kote, Yoseph Namo Salem (73), mengakui, warga kampung itu hingga sekarang tetap menggelar ritus kure. ”Kure itu kebanggaan kami karena hanya ada di Noemuti Kote. Kami akan tetap mempertahankannya sampai kapan pun,” tutur Namo di kampungnya itu, Selasa (12/3) siang.

Kebanggaan dan pernyataan senada dilontarkan oleh Daniel Salem (68) dan Alex da Costa, juga tetua asal Noemuti Kote yang kini menetap di Kota Kupang.

”Saya bersama keluarga hampir setiap tahun mengikuti prosesi kure di Noemuti Kote,” tutur Daniel Salem yang adalah pensiunan anggota Polri sejak 10 tahun lalu.

Marga Salem adalah satu dari 18 suku pendukung kure di Noemuti Kote. Sementara 17 suku lainnya yaitu suku Meol, Neonbanu, Helo, Kosat, Silab, Mandosa, Meko, Oetkuni, Taesmuti, Menbam, Uskono, Vios, Woesala, Laot, Lopis, Nitjano, dan Manhitu.

Sebagaimana lazimnya, umat Katolik setelah mengikuti perayaan Kamis Putih dalam pekan Paskah tidak langsung bubar. Mereka berkumpul di depan gereja dan secara bersama mengikuti prosesi ritual kure. Arakan umat menyinggahi 18 ume mnasi. Setiba di setiap ume mnasi dan sambil terus memanjatkan doa, mereka berhenti sejenak di depan berbagai jenis sarana keagamaan peninggalan Portugis. Benda sakral berusia sangat tua itu, antara lain, berupa patung Bunda Maria, patung Yesus disalibkan, dan rosario. Uniknya lagi, sebelum melanjutkan prosesinya, peserta tanpa kecuali memperoleh pembagian hasil kebun dari setiap tetua ume mnasi yang disinggahi.

Seperti dikisahkan Namo, Daniel, Alex da Costa, Daminanus Salem (44), dan sejumlah tetua lain di Noemuti Kote, ritus kure yang berlangsung Kamis malam (pekan Paskah) sebenarnya didahului kesibukan yang disebut bualoet. Intinya adalah pengumpulan hasil kebun berupa sirih, pinang, tembakau, tebu, jeruk, dan lainnya dari seluruh keluarga melalui tetua masing-masing suku pendukung kure. Hasil kebun itulah yang kemudian dibagikan kepada peserta prosesi kure.

Kegiatan bualoet biasanya berlangsung pada Rabu, satu hari sebelum puncak perayaan kure. Pada Rabu itu pula, para tetua setiap suku melakukan kegiatan yang disebut taniu usi neon. Wujudnya adalah kesibukan memandikan berbagai sarana keagamaan yang mereka miliki sebelum benda benda sakral itu diletakkan di ruang terbuka menyongsong prosesi kure.

Belum diketahui secara pasti sejak kapan leluhur Noemuti Kote mengenal ritus kure. Pakar misiologi bidang pewartaan dan budaya, Romo Ockto Naif Pr, memperkirakan tradisi unik itu mulai dilaksanakan di Noemuti Kote sejak abad ke-16.

Mengutip berbagai sumber, Ockto, yang kini dosen pada Fakultas Filsafat Agama Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, mencatat misionaris Portugis selama 7-8 tahun sejak tahun 1512 setidaknya dua kali dalam setahun, yakni pada Januari dan September, mengunjungi Timor dan Solor (pulau kecil di depan Larantuka, Flores Timur). Disebutkan pula, bangsa Portugis bersama misionarisnya mulai menetap di Lifao (kini Oekusi) pada tahun 1520. Lifao atau Oekusi adalah daerah enklave Timor Leste, yang wilayahnya di sebelah utara Kabupaten Timor Tengah Utara. Antara Lifao dan Noemuti berjarak hanya sekitar 70 km.

Bukan bahasa dawan

Bahasa dawan adalah bahasa ibu masyarakat Timor umumnya, termasuk di kawasan Noemuti. Namun, kata kure dipastikan tidak berakar dari bahasa dawan. Bagi pengguna bahasa dawan, kata kure hanya ditemukan di Noemuti Kote, itu pun terkait ritus kure.

Pastor Andreas Sa’u SVD melalui bukunya, Menghargai Tradisi Menghormati Karya Manusia (2008), menduga kata kure berasal dari bahasa Latin, currere, yang berarti berjalan, menjelajahi atau merambat. Mungkin juga dari kata Latin lainnya, cura yang berarti ibadah, penyembahan kepada dewa-dewi. Dengan demikian, kure bisa dimengerti sebagai kegiatan berjalan sambil berdoa dari rumah ke rumah.

Ockto Naif berpandangan kalau tradisi doa kure sesungguhnya bermakna ganda. Selain merupakan devosi untuk keselamatan jiwa, kure juga bermakna menjaga sekaligus mengeratkan kebersamaan warga antarsuku di Noemuti Kote.

”Dorongan semangat kebersamaannya sangat kuat, ditandai antara lain melalui prosesi secara bersama dari rumah ke rumah. Itu dilakukan sambil berdoa secara bersama pula,” tuturnya.

Mengutip penuturan secara turun temurun, sejumlah tetua mengisahkan, Noemuti Kote sebelum dikuasai Portugis adalah pusat Kerajaan Noemuti. Rumah rajanya dikelilingi sejumlah ume leu, yang berarti rumah pemali atau rumah angker, sekaligus rumah induk sukunya. Berbagai benda pusaka yang disakralkan, termasuk perlengkapan perang, tersimpan di ume leu.

Setelah dikuasai Portugis yang datang bersama misionaris Katolik sekitar abad ke-16, ume leu berganti nama menjadi ume mnasi, yang berarti rumah tua atau rumah induk sekaligus tempat berdoa. Perannya juga berubah menjadi tempat menyimpan seperangkat patung sakral Katolik bawaan Portugis atau tidak lagi menjadi tempat menyimpan benda-benda pusaka peninggalan leluhur.

Terkait hal itu, Andreas Sa’u berpendapat, pergantian nama dan perubahan peran rumah induk suku yang diikuti ritus kure sama sekali tidak bermaksud melenyapkan adat dan tradisi tua sebelumnya. Perubahan hanya sebatas memberi fungsi dan makna baru menjadikan rumah induk mereka sekaligus sebagai tempat beribadah secara Katolik. Perubahan itu berjalan tanpa halangan berarti karena disetujui para tetua leluhur suku yang telah dibaptis menjadi pemeluk Katolik.

Dalam perjalanannya, tradisi ritus kure, yang sepenuhnya oleh awam Katolik, justru menjadi penyelamat iman umat meski mereka pada suatu masa tanpa kehadiran pastor selama kurang lebih 200 tahun.


Editor :