Jumat, 31 Oktober 2014

News / Regional

Harga Cabai di Sampit Rp 90.000 Per Kilogram

Senin, 25 Maret 2013 | 02:27 WIB

SAMPIT, KOMPAS.com - Harga cabai sayur di sejumlah pasar tradisional Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, naik sebesar Rp 40.000/kg atau dari Rp 50.000/kg menjadi Rp 90.000/kg.

"Kenaikan harga cabai di Sampit sudah berlangsung dua hari terakhir dan hal itu terjadi akibat berkurangnya pasokan dari pulau Jawa," kata salah seorang pedagang di pasar tradisional Keramat Sampit, Kabupaten Kotim, Roji, di Sampit, Minggu (24/3/2013).

Harga cabai diperkirakan akan terus naik jika pasokan tersendat, sementara cabai lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar. Hasil panen lokal sekarang berkurang karena di beberapa wilayah Kabupaten Kotim petani gagal panen akibat tingginya curah hujan.

Curah hujan yang tinggi sangat mempengaruhi hasil panen. "Cabai membusuk jika sering kena air, pedagang tidak memiliki pilihan lain selain harus menaikan harga jual cabai karena stok saat ini sangat terbatas dan susah didapat," kata Roji.

Para pedagang tetap berharap pasokan dapat kembali lancar, sehingga harga bisa normal kembali, sebab dengan terbatasnya pasokan dan harga tinggi membuat keuntungan pedagang menurun karena daya beli masyarakat juga menjadi berkurang.

"Kami menjual cabai sebesar Rp90.000/kg, namun jika ada masyarakat yang membeli hanya sedikit maka kami hargai sebesar Rp 10.000/ons," katanya.

Harga bawang merah dan bawang putih di Sampit berkisar antara Rp60.000-Rp70.000/kg sekarang cenderung turun sebesar Rp 10.000-Rp 11.000/kg. Harga bawang putih masih mahal, Rp 60.000- Rp 65.000/kg.

Sedangkan bawang merah Rp 50.000-Rp 59.000/kg. Turunnya harga bawang merah dan bawang putih tersebut karena pasokan dari pulau Jawa ke pasar Kotim sekarang normal.

"Tingginya harga bawang merah dan putih hingga mencapai Rp60.000 -Rp70.000/kg merupakan pertama sekalinya terjadi di Kotim. Sebelumnya harga tertinggi sekitar Rp 50.000/kg," katanya.

Mahalnya harga bawang merah dan bawang putih di Kotim diduga karena adanya penimbunan yang dilakukan pihak agen besar. Hal itu sengaja dilakukan karena ingin mendapatkan keuntungan besar.


Editor : Benny N Joewono
Sumber: