Senin, 24 November 2014

News / Regional

Dituding Sesat, Pengajian Ar-Rahman Mengadu ke TPM

Selasa, 19 Maret 2013 | 19:56 WIB

MEDAN, KOMPAS.com — Puluhan perwakilan pengajian Ar-Rahman di Jalan Sederhana, Gang Raya V Ujung, Dusun X Raya, Desa Sambirejo Timur, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, mendatangi kantor Tim Pengacara Muslim (TPM) Medan di Jalan Prajurit Medan untuk meminta bantuan hukum, Selasa (19/3/2013).

Abdul Rahman Yahya, pemimpin pengajian tersebut, mengatakan, pengajiannya dituding sesat. Menurutnya, tudingan tersebut berasal dari oknum-oknum tertentu yang tidak senang atas pesatnya perkembangan pengajian tersebut.

"Awal 2010 lalu, pengajian Ar-Rahman pernah dipanggil untuk bermusyawarah oleh Muspika, tokoh masyarakat, alim ulama dan MUI Kecamatan Percut Sei Tuan dengan alasan adanya laporan dari pemuda masyarakat yang mengaku aliran kami sesat. Namun sampai hari ini, MUI belum ada menyatakan aliran kami ini sesat," katanya.

Belakangan, lokasi pengajian kerap mendapat intimidasi berupa lemparan-lemparan batu. Terakhir pada Sabtu (9/3/2013) sekira pukul 06.45 WIB, terjadi lemparan yang mengenai jendela kaca rumah. Akibat fitnah yang disebarkan selama ini, Jumat (15/3/2013) sekira pukul 22.00 WIB, saat beberapa murid menggelar pengajian, puluhan orang datang dan melempari batu.

"Saya minta seluruh ormas Islam memberikan dukungannya kepada kami. Seluruh yang memiliki syahadat sama dengan kami harap membantu, yang menentukan perkumpulan pengajian Ar-Rahman sesat adalah fatwa MUI bukan orang-orang tertentu," tegasnya.

Menurut Abdul Rahman, pada 2010 lalu seorang santri memberikan khotbah yang isinya menyatakan lebih mendahulukan orangtua ketimbang Allah. "Santri tanpa ada konfirmasi ke saya mengadakan khotbah di masjid yang intinya menjelaskan mendahulukan orangtua ketimbang Allah. Dia sudah kita sidang dan meminta maaf," ujar Rahman.

Tujuh orang TPM masing-masing Mahmud Irsad Lubis, Ahmad Sukri Hasibuan, Eko Winarno, Abdul Manaf, Fauzi Iskandar Nasution, Sofyan Taufik, dan M Noor Shahib siap mendampingi pengajian Ar-Rahman atas tudingan dan penyerangan massa selama ini. "Kami akan laporkan tindak pidana ini ke pihak berwajib. Proses penguatan pengajian ini akan kami minta pula ke tingkat daerah dan nasional. Langkah strategis akan kami lakukan hari ini dan seterusnya," ujar Mahfud Irsad Lubis.

Terpisah, Ramli Abdul Wahid selaku Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi dan anggota Komisi Fatwa MUI Sumut menyatakan, belum menerima laporan terkait adanya aliran sesat Ar-Rahman. Dia menegaskan, untuk menentukan sebuah pengajian dikatakan sesat atau tidak, pihaknya terlebih dahulu harus terjun ke lapangan dan melakukan klarifikasi terhadap pihak-pihak terkait.

"Harus melalui survei, kalau perlu dipanggil. Untuk menguatkan satu aliran dikatakan sesat ada kategori dan waktunya. Kategori aliran sesat itu banyak," tegas Ramli.

Dia mencontohkan beberapa katagori, yaitu mengingkari salah satu dari rukun iman dan Islam, menyakini turunnya atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Al Quran dan Sunnah, meyakini turunnya wahyu setelah Al Quran. Lalu, mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al Quran, melakukan penafsiran Al Quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir. Kemudian, mengingkari kedudukan Hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam.

"Menghina atau melecehkan atau merendahkan nabi dan rasul terakhir, mengubah, menambah, dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat dan mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar'i," ujar Ramli.

Dikatakannya juga, faktor-faktor sebuah aliran atau orang mendirikan aliran sesat ada banyak, berupa kelaianan jiwa atau stres, faktor materi, puberitas keberagamaan, ketidakpuasan terhadap pemahanan Islam yang dalam posisi lemah, tertarik dengan iming-iming, serta bukan tidak mungkin terjadi akibat intervensi luar negeri.

"Kalau kasus ini, kami MUI Sumut belum tau dan belum dapat informasi. Karena itu, belum ada pembahasan. Kami belum memberikan sikap atau fatwa atas aliran sesat yang di tuduhkan tersebut. Asalkan ada yang melapor dan ada data-data kita tentunya kita akan lakukan survei ke lapangan," kata Ramli lagi.


Penulis: Kontributor Medan, Mei Leandha
Editor : Glori K. Wadrianto