Minggu, 26 Oktober 2014

News / Regional

7.500 Hektare Lahan Pertanian di Sumenep Beralih Fungsi

Kamis, 14 Maret 2013 | 13:51 WIB

SUMENEP, KOMPAS.com — Penyusutan lahan produktif pertanian di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dalam kondisi mengkhawatirkan. Setiap tahun terdapat 7.500 hektare lahan yang tidak produktif hingga mengakibatkan menyusutkan produksi dan produktivitas hasil pertanian.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep Ahmad Salaf mengatakan, penyusutan lahan disebabkan karena beberapa hal. Di antaranya karena alih fungsi lahan, adanya perubahan iklim, dan adanya serangan organisme yang mengganggu pertanian.

"Namun, jika dikalkulasi alih fungsi lahan didominasi karena maraknya pembangunan perumahan yang jumlahnya cukup banyak di wilayah perkotaan. Lahan yang digunakan banyak menempati tanah produktif untuk pertanian," katanya, Kamis (14/3/2013).

Untuk itu, pihaknya akan mengupayakan agar lahan-lahan yang menjadi basis produksi pertanian tidak diperbolehkan untuk dibangun perumahan dan pemanfaatan lainnya.

"Jika ini dibiarkan, maka pangan dan kebutuhan pertanian, khususnya di Sumenep, lambat laun akan semakin menipis dan mengkhawatirkan," ungkap Salaf.

Sementara ini, cara untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian yakni dengan menyempurnakan teknologi dan teknik penanaman bagi petani.

Cara lain seperti larangan pemanfaatan lahan produktif untuk pembangunan masih sangat sulit. Pasalnya, itu berkaitan dengan kebijakan makro yang juga berdampak pada investasi daerah.

"Kami berharap nanti dalam peraturan tata ruang wilayah ada kawasan yang khusus untuk pertanian. Sementara itu, untuk pengembangan properti bisa diarahkan ke lahan nonproduktif," imbuh Salaf.

Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sumenep mencatat, pada tahun 2012 luas lahan pertanian berupa sawah seluas 25.185 hektare, tersebar di 24 kecamatan, sedangkan sawah terluas tercatat di Kecamatan Arjasa sebesar 7.481 hektare.

Meskipun Kecamatan Arjasa yang paling luas lahannya, produktivitas pertanian tertinggi berada di Kecamatan Guluk-guluk. Di Arjasa produktivitasnya hanya 5,91 ton per hektare, sedangkan di Guluk-guluk mencapai 6,42 ton per hektare.

"Kalau di Kecamatan Arjasa banyak lahan produktif, tapi tidak diolah. Faktornya banyak warga yang memilih menjadi tenaga kerja ke luar negeri daripada menggarap lahan pertanian," tandasnya.


Penulis: Kontributor Pamekasan, Taufiqurrahman
Editor : Kistyarini