Rabu, 3 September 2014

News / Regional

Panglima TNI

Penyerangan Mapolres OKU Penyalahgunaan Naluri Tempur

Sabtu, 9 Maret 2013 | 10:40 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Panglima TNI Laksamana Agus Suharyanto menilai kasus pembakaran Mapolres Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, oleh aparat TNI lantaran adanya perasaan emosi dan ketidakpuasan. Selain itu, Agus juga menyoroti salahnya penggunaan naluri tempur yang digunakan para prajuritnya dalam kasus penyerangan itu.

"Mereka datang karena emosi, ketidakpuasan, sehingga melakukan perusakan," ujar Agus seusai melakukan rapat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bandara Halim Perdana Kusuma pada Sabtu (9/3/2013) pagi ini.

Agus mengatakan, para prajurit satuan tempur memang diwajibkan memiliki naluri tempur. Mereka, kata Agus, juga harus memiliki jiwa kesetiaan pada korspnya di TNI, bangsa, dan negara.

"Kalau tidak tumbuh, bagaimana bisa melaksanakan tugas negara," ucapnya.

Namun, lanjut Agus, yang terjadi pada kasus pembakaran Polres OKU adalah penyalahgunaan naluri tempur.

"Menempatkan naluri tempurnya ini padahal yang tidak tepat, seperti penyerangan ke Mapolres ini. Karena tidak tepat, harus ada sanksi," ucapnya.

Markas Polres OKU dibakar puluhan anggota TNI dari Batalyon Armed 15, Kamis (7/3/2013), sekitar pukul 07.30 WIB. Para oknum TNI ini juga merusak mobil polisi, dua pos polisi, dan subsektor setempat.

Sekitar 90 anggota TNI itu datang dengan sepeda motor dan truk. Ketika datang, puluhan tentara tersebut membawa sangkur yang kemudian diduga melukai empat polisi itu.

Berdasarkan keterangan polisi, semula tentara-tentara ini ingin menanyakan kasus tewasnya anggota TNI pada Januari lalu. Tentara tersebut tewas ditembak petugas lalu lintas Polres OKU.

Diduga kecewa dengan penjelasan yang didapat, puluhan tentara itu akhirnya membakar gedung Polres dan kendaraan yang ada di sekitar markas. Akibat penyerangan ini, sebanyak lima orang menjadi korban, empat di antaranya adalah polisi dan satu warga sipil.

Empat anggota polisi yang menjadi korban ialah Kapolsek Martapura Komisaris Polisi Ridwan Aiptu Merbawi, Briptu Berlin Mandala, dan Bripka Andi. Kondisi para korban bervariasi. Aiptu Merbawi mengalami luka tusuk pada paha kirinya dan patah pada hidung. Briptu Berlin Mandala terluka tusuk di dada kiri dan tangan kanan robek. Bripka Andi mengalami luka di mata dan luka tusuk di tangan kanan. Kompol Ridwan juga mengalami luka tusuk dan luka di bagian kepala.

Sementara warga sipil yang menjadi korban ialah petugas kebersihan bernama Ajrul yang mengalami luka di bagian pelipis. Kini, Polisi Militer TNI sudah memeriksa 30 prajuritnya. Jika terbukti terlibat penyerangan, para prajurit itu akan disidangkan dalam peradilan militer.


Penulis: Sabrina Asril
Editor : Ana Shofiana Syatiri