Senin, 28 Juli 2014

News / Regional

Dikdik-Toyib Merasa Diremehkan Survei

Selasa, 12 Februari 2013 | 07:38 WIB

Berita terkait

KUNINGAN, KOMPAS.com - Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat Dikdik Mulyana Arief dan Cecep Nana Suryana Toyib merasa diremehkan karena berbagai survei menempatkan pasangan ini pada urutan terakhir dalam popularitas dan tingkat keterpilihan. Namun, mereka meyakini bisa meraup suara dari pemilih mengambang dan kelompok masyarakat yang kecewa pada partai politik.

Hal itu dikatakan Toyib di sela-sela kampanye di Pasar Cilimus, Kabupaten Kuningan, Senin (11/2/2013). Berbagai survei itu menunjukkan ada 80 persen massa di Jabar yang belum menentukan pilihan atau masih mengambang. ”Pasar ini masih luas untuk digarap calon perseorangan,” kata Toyib yang juga mantan Bupati Indramayu.

Selain itu, berbagai kasus korupsi yang menerpa kader parpol, menurut Toyib, juga menjadi salah satu pemicu kekecewaan masyarakat terhadap calon dari parpol. ”Pimpinan dari parpol sudah diberi kesempatan oleh rakyat dan ternyata banyak kasus yang menimpa mereka. Sekarang yang belum diberi giliran itu calon perseorangan,” katanya.

Di Garut, perajin kulit di Sukaregang mengharapkan bantuan instalasi pengolahan limbah terpadu. ”Perajin masih kesulitan membuang limbah bekas pencucian kulit. Beberapa perajin masih membuang ke Sungai Cimanuk,” ujar Jajang, perajin kulit Sukaregang, saat cagub Dede Yusuf mengunjungi sentra kerajinan kulit terbesar di Jabar itu.

Dede berjanji jika terpilih akan membantu menyediakan alat instalasi pengolahan limbah bagi perajin kulit di Sukaregang. Di satu sisi, kerajinan kulit menjadi tumpuan mata pencarian masyarakat, tapi jika limbahnya dibuang sembarangan akan menimbulkan kerusakan lingkungan. Dalam kunjungan kerja ke Tasikmalaya, Ketua Umum PKB yang juga Menakertrans Muhaimin Iskandar mengatakan mendukung Dede Yusuf sebagai cagub Jabar.

Kesejahteraan buruh

Di Cimahi, para buruh mendambakan gubernur Jabar yang dapat meningkatkan kesejahteraan buruh. Mereka juga menginginkan penghapusan sistem kerja kontrak dan alih daya. Hal itu disampaikan saat menyambut kedatangan calon gubernur Jabar dari PDI-P, Rieke Diah Pitaloka, Senin. ”Jika sistem kerja kontrak dihapus, mungkin saya sudah bisa menjadi karyawan tetap,” kata Nanung (34), buruh kontrak.

Rieke mengatakan, sistem kerja kontrak harus dihapus. Sementara untuk alih daya, hanya berlaku bagi kerja sampingan, bukan pekerjaan inti. ”Tak boleh ada tenaga outsourcing (alih daya) yang tak sesuai dengan undang-undang,” ujarnya.

Cagub Jabar Ahmad Heryawan menegaskan, pihaknya berkomitmen menciptakan dua juta kursi lapangan kerja. Komitmen ini diutarakan saat berkampanye di hadapan sekitar 3.000 pekerja PT Baju Indah Indonesia di Kelurahan Kadudampit, Kecamatan Kadudampit, Sukabumi, Senin.

”Saya berani menetapkan komitmen dua juta lapangan kerja karena selama hampir lima tahun memimpin Jabar berhasil membuka 1,8 juta. Insya Allah untuk periode lima tahun mendatang, saya dengan Kang Deddy Mizwar mampu menciptakan paling sedikit dua juta lapangan kerja,” ujar Heryawan.

Kampanye hitam yang menyudutkan calon mulai terjadi pada hari kelima masa kampanye Pilkada Jabar. Ketua Panwaslu Jawa Barat Ihat Subihat mengemukakan hal itu terkait penyelenggaraan bedah buku ”Dari Sajadah Hingga Haram Jadah Praktik Politik Gubernur Ahmad Heryawan (2013)” yang digelar di Gedung Indonesia 99, Jalan Kejaksaan, Bandung. Acara digelar Indonesia 99 DPW Jabar. Mohamad Barli, Sekjen Indonesia 99, mengemukakan, bedah buku itu forum ilmiah.(REK/CHE/SEM/MHF/NIK/HEI/DMU)


Editor : Kistyarini
Sumber: