Jumat, 25 Juli 2014

News / Regional

Penggemar "Beatbox" di Kediri Mulai Menggeliat

Minggu, 3 Februari 2013 | 16:49 WIB

KEDIRI, KOMPAS.com -- Penggemar beatbox tampaknya tidak hanya didominasi kawula muda di kota besar saja. Di Kediri, Jawa Timur, juga sudah mulai banyak penggemar musik yang dihasilkan melalui alat ucap manusia ini. Mereka terhimpun dalam Kediri Beatbox Community atau KBXC, dan kini sudah beranggotakan sebanyak 30 orang.

Rata-rata anggota komunitas ini berasal dari pelajar level sekolah menengah pertama hingga karyawan. Kemampuan mereka terus diasah dengan latihan yang digelar secara rutin setiap akhir pekan di kawasan monumen Simpang Lima Gumul (SLG). Dengan menggunakan seperangkat speaker aktif yang bertenagakan baterai, penampilan mereka cukup mencuri perhatian para pengunjung SLG.

Alvian, salah satu pendiri KBXC mengatakan, komunitasnya itu baru berdiri sekitar setahun lalu yang diawali dari jejaring sosial Facebook. Komunikasi yang intensif itu melahirkan kesepakatan bersama dan terbentuklah KBC, dan belakangan berganti nama menjadi KBXC karena tumbuh dengan nama komunitas yang sama asal Karawang.

"Bulan depan kami akan adakan perayaan anniversary yang pertama, tapi waktu pastinya kapan belum diputuskan," kata Alvian, saat ditemui sedang berlatih bersama komunitasnya di SLG, Minggu (3/2/2013).

Pada perayaan ulang tahun KBXC itu, menurut Alvian, akan diadakan kompetisi adu kemampuan (battle) beatbox dengan dihadiri peserta undangan dari luar daerah. Kedatangan para delegasi dari luar kota itu nantinya diharapkan menjadi stimulan bagi penggemar beatbox, atau disebut beatboxer lokal.

Belajar beatbox menurutnya cukup mudah dan dapat dilakukan oleh siapapun tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal. Sebab, ia memastikan modal utamanya adalah suara, niat kuat serta ketekunan dalam mempelajarinya.

"Niat harus kuat. Dari situ lalu mulai belajar materi dasarnya, yaitu BTK, yang berasal dari suara drum set, secara tekun," kata mahasiswa yang dalam komunitasnya biasa dipanggil A ini.

Menurut Alvian, beatbox merupakan seni musik yang murah karena hanya mengandalkan mulut, serta mudah dimainkan dalam berbagai kondisi. Ia mengambil contoh, musik beatbox yang dapat dimainkan untuk mengusir kepenatan akibat kemacetan lalu lintas.

"Tanpa MP3 pun kita bisa menghibur diri di tengah kemacetan," kata Avian.

Noor Gati, beatboxer lainnya menimpali, komunitas KBXC adalah tempat untuk saling belajar bersama dan tempat bertukar pikiran. Selain itu mereka juga bisa mengembangkan kemampuan beatbox melalui laman beatbox yang tersebar di internet.

"Solidaritas sesama beatboxer amat kuat, karena kami di sini sama-sama belajar. Intinya otodidak, semua dapat dipelajari," kata Noor Gati. Gati awalnya bergabung dengan komunitas beatbox di Surabaya, lalu mengembangkan pengalamannya di Kediri ini.

Namun demikian bermain jenis musik yang awalnya dimainkan oleh kaum kulit hitam kisaran tahun 1880-an ini, kata Gati, bukan berarti tidak ada kendala. Penyakit sariawan dan hilangnya suara menjadi sesuatu yang mereka khawatirkan. Oleh sebab itu mereka merasa perlu menjaga kesehatan untuk memelihara suaranya.

Saat ini mereka sedang bergairah mengembangkan komunitasnya karena mempunyai impian membuat beatbox familiar di Kediri. "Kami pengennya beatbox semakin dikenal," tandasnya.

Dalam pengembangan komunitasnya, mereka menggandeng dan berkolaborasi dengan para penggemar musik hip-hop. Selain mempererat persaudaraan, kolaborasi itu menurutnya dapat meningkatkan kemampuan bermusik.


Penulis: Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim
Editor : Farid Assifa