Minggu, 26 Oktober 2014

News /

DAMPAK BANJIR

Oprit Jembatan Ambrol, Tegal-Purwokerto Terputus

Sabtu, 26 Januari 2013 | 03:13 WIB

Brebes, Kompas - Ruas jalan utama Tegal-Purwokerto, Jawa Tengah, yang melalui jalur lingkar Bumiayu di Kabupaten Brebes terputus akibat ambrolnya oprit jembatan Sungai Keruh, Kamis (24/1) petang. Oprit jembatan Sungai Keruh di Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, ambrol sepanjang sekitar 25 meter, dengan lebar 3,5 meter, terhantam arus sungai.

Hingga Jumat petang hanya kendaraan roda dua yang diperbolehkan melintas di ruas itu. Jembatan ditutup untuk arus lalu lintas kendaraan karena badan jalan pada tepi jembatan tinggal separuh. Jalan selebar 7 meter hanya tersisa separuh sehingga membahayakan kendaraan.

Peristiwa ambrolnya oprit (pelat penghubung jalan dengan bahu jembatan) sungai itu terjadi saat hujan lebat. Menurut Iskhak (51), warga Desa Dukuhturi, hujan deras menyebabkan Sungai Keruh meluap. Selain mengakibatkan ambrolnya oprit jembatan, arus sungai juga membuat penahan (talud) jembatan bergeser.

Dua rumah warga yang berada pada tebing di atas Sungai Keruh juga rusak. Rumah itu milik Turimalan (50) dan Wibowo (30), warga Desa Kalierang, Kecamatan Bumiayu. Pagar SMP Negeri 1 Bumiayu juga jebol tergerus air.

Arus lalu lintas kendaraan roda 4 atau lebih dari Tegal menuju Purwokerto yang biasanya melalui jalur lingkar Bumiayu terpaksa dialihkan melalui pusat kota Bumiayu. Hal itu mengakibatkan kepadatan kendaraan di pusat ibu kota kecamatan tersebut di depan Pasar Bumiayu.

Ambrolnya oprit jembatan Sungai Keruh kali ini yang ketiga kalinya. Sebelumnya pada 2011 dan 2012 oprit jembatan ini juga ambrol tergerus arus sungai.

Wakil Ketua DPRD Brebes Agus Sutrisno mengatakan, kerusakan pada jembatan Sungai Keruh harus segera diatasi karena dampak ekonomi yang ditimbulkan sangat besar.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Banten mengalokasikan Rp 62,03 miliar untuk menanggulangi banjir di daerah-daerah rawan banjir.

Asisten Daerah II Sekretaris Daerah Provinsi Banten M Husni Hasan, Jumat (25/1), di Serang, mengatakan, dana yang dialokasikan untuk tanggap darurat sebesar Rp 2 miliar. Adapun dana penanganan banjir di bidang pengelolaan sumber daya air Rp 60,03 miliar.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menyiapkan anggaran penanganan pascabencana sebesar Rp 160 miliar. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur Sudarmawan menjelaskan, pada tahapan kedaruratan disiapkan tiga fase penanganan, yakni siaga darurat, tanggap darurat, dan transisi. (WIE/HEN/ACI)


Editor :