Selasa, 21 Oktober 2014

News / Regional

Polisi Usut Perusakan Balai Rehabilitasi BNNP Sulsel

Jumat, 25 Januari 2013 | 21:46 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com -- Aparat Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Polda Sulselbar) mengusut kasus perusakan balai rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel, Baddoka, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulselbar, Komisaris Besar (Kombes) Polisi Endi Sutendi yang dikonfirmasi di ruang kerjanya mengatakan, penyidik telah memeriksa saksi mata dalam bentrokan sesama warga binaan (residen) hingga mengakibatkan kerusakan gedung balai rehabilitasi BNNP. Saksi mata merupakan karyawan BNNP yakni, Andi Muh Thurzinawan, Iqbal, Rina dan Ana.

"Keempat saksi melihat secara langsung pelaku merusak kantor BNNP Sulsel berupa kaca, lampu, taman, pintu, penutup kloset, gitar dengan jumlah kerugian kurang lebih Rp 50 juta. Adapun nama provokator dan perusakan berjumlah 7 orang yaitu, Rasyid, Ardi, Alvian, Arga, Ahmad, Fahmi, Fajar Asmar yang kini masih dalam pencarian polisi," katanya.

Dia menambahkan, ketujuh pelaku perusakan balai rehabilitasi BNNP Sulsel kabur bersama tiga puluhan residen lainnya. "Sebanyak 22 orang belum kembali ke kantor BNNP Sulsel. Sedangkan yang kembali hanya delapan orang dan diduga tidak terlibat dalam perusakan balai rehabilitasi," paparnya.

Sebelumnya telah diberitakan Kompas.com, sebanyak 30 lebih warga binaan balai rehabilitasi BNNP Sulsel kabur saat Pemilihan Gubenur Sulsel berlangsung, Selasa (22/01/2013) lalu. Mereka kabur, pasca-bentrokan sesama warga binaan pecah akibat kesalahpahaman.

Sementara itu, Kepala Balai Rehabilitasi BNNP Sulsel, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) dr Mapparappe yang dikonfirmasi Kompas.com di kantornya mengimbau residen lainnya agar kembali ke Balai Rehabilitasi BNNP Sulsel. Dia juga membantah, jika balai rehabilitasi yang dipimpinnya seperti penjara.

"Balai rehabilitasi di sini bukan penjara, karena ruangan residen bagus semua. Hanya jendela yang dipakaikan terali besi, jadinya residen menganggap bahwa itu penjara. Kami juga melayani pasien yang betul-betul ingin sembuh dengan menyiapkan tujuh dokter dan sepuluh perawat, tanpa ada pungutan biaya," jelasnya.

"Kita memperlakukan residen sangat manusiawi, dimana disiapkan pula tempat besukan setiap hari Ssabtu dan Minggu," kata mantan dokter RS Bhayangkara Makassar ini.

Mapparappe membenarkan jika tiga puluhan lebih residen tidak kabur, melainkan dibiarkan bebas untuk sementara. Tindakan ini dilakukan agar emosi para residen tidak meningkat pasca-bentrokan.

"Orang seperti itu kan gampang tersinggung dan emosinya meningkat. Jadi kami biarkan dulu keluar, paling juga dikembalikan oleh keluarganya sendiri jika memang ingin sadar," katanya.

Dia juga membantah adanya "perpeloncoan" antara senior kepada junior di balai rehabilitasi BNNP Sulsel. "Saya baru sebulan menjabat, tapi saya bantah jika ada sistem 'perpeloncoan' di sini. Sebab dimana pun, tidak dibenarkan adanya sisten 'perpeloncoan'," tambahnya.


Penulis: Kontributor Makassar, Hendra Cipto
Editor : Farid Assifa