Senin, 22 Desember 2014

News /

PERTANIAN

Sorgum Dikembangkan di NTT

Rabu, 16 Januari 2013 | 04:33 WIB

Soe, Kompas - Petani di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, mengembangkan tanaman sorgum (Sorghum sacratum) di 10 desa. Tanaman sorgum bertahan terhadap panas, hama, dan tumbuh di lahan kritis. Sorgum merupakan jenis tanaman serealia dengan kandungan nutrisi tinggi dan disukai anak-anak.

Direktur Yayasan Aksi Kemanusiaan Animasi Timor Tengah Selatan Mateus Krivo di Soe, Senin (14/1), mengatakan, petani Timor Tengah Selatan bertekad mengembangbiakkan sorgum dalam jumlah besar, seperti di era tahun 1970-an. Saat itu sorgum populer di kalangan petani. Namun, jenis tanaman ini mulai langka tahun 1980-an ketika beras dari luar merambah pasar tradisional di daerah itu.

”Petani Timor Tengah Selatan bersumpah secara adat untuk mengembalikan tanaman khas peninggalan leluhur, seperti sorgum. Sekarang sorgum sudah ditanam pada lahan sekitar 5 hektar milik petani. Petani antusias membudidayakan sorgum, tetapi bibitnya amat terbatas,” ujarnya.

Tanaman sorgum tahan panas, mampu tumbuh subur di lahan kritis, tahan hama, dan tidak butuh banyak air. Akar tanaman ini pun serabut dengan kedalaman sekitar 15 sentimeter.

Musim hujan yang selalu diselingi panas hingga 20 hari berturut-turut jelas berpengaruh pada produksi tanaman pangan, terutama jagung atau padi. Namun, sorgum tetap bertahan dalam suasana panas seperti itu. Bahkan, produksinya justru meningkat.

Petani di Timor Tengah Selatan bertekad menjadikan kabupaten itu sebagai pusat budidaya sorgum. Panen sorgum tahun ini tak dikonsumsi, tetapi disimpan sebagai bibit untuk musim tanam tahun 2013/2014. Kini sorgum ditanam dalam lahan milik kelompok. Saat ini ada 60 kelompok petani yang mengembangkan sorgum.

”Setiap kelompok itu bertanggung jawab atas tanamannya. Pada musim tanam tahun depan, kelompok itu tidak akan menerima bibit lagi. Sorgum yang sedang dikembangkan saat ini dipilih dari jenis yang bisa bertahan terhadap pertanian lahan kering,” kata Mateus.

Bibit sorgum diperoleh di Pasar Oesao di Kabupaten Kupang, sekitar 130 kilometer dari Timor Tengah Selatan. Petani juga meminta bibit kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan dan Pemerintah Provinsi NTT, tetapi tak diberikan. Mereka sulit mendapatkan bibit sorgum sebab tidak pernah dibudidayakan.

John Ninuf, Ketua Kelompok Tani Mandiri di Desa Batu Putih, Timor Tengah Selatan, mengatakan, selama ini petani lebih sering menanam jagung di lahan yang kering. Namun, usaha jagung sering kali gagal panen.

Sorgum bisa bertahan hingga dua tahun kalau disimpan di tempat kering. Karena itu, petani di kabupaten itu kembali menanam sorgum. (kor)


Editor :