Jumat, 18 April 2014

News / Regional

Harga Cengkeh Naik, Pabrik Rokok Kecil Khawatir

Senin, 7 Januari 2013 | 10:41 WIB

Baca juga

MALANG, KOMPAS.com - Sejak Agustus 2012 lalu, harga cengkeh terus melambung. Dari harga Rp 60.000 melambung menjadi Rp 120.000 per kilogram. Sementara, pihak perusahaan rokok kini mematok harga cengkeh sebesar Rp 70.000.

"Kenaikan harga cengkeh itu, jelas berdampak ke pengusaha rokok kecil. Sebagian akan terancam gulung tikar," jelas Ketua harian Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi), Heri Susianto, kepada wartawan di Malang, Senin (7/1/2013).

Menurut Heri, walaupun harga cengkeh naik, tidak mudah akan segera menaikkan harga jual rokok. "Perusahaan rokok kecil kelimpungan tak bisa bersaing dengan perusahaan rokok besar yang bermodal besar," katanya.

Apalagi, kata Heri, produksi utama rokok kretek yang menggunakan cengkeh sebagai bahan tambahan. "Saat ini produk rokok yang beredar di pasaran antara lain rokok kretek filter, kretek non filter dan filter putih," jelas Heri.

Lebih lanjut Heri mengatakan, masing-masing rokok, kandungan rokok cengkehnya berbeda-beda, kretek filter membutuhkan cengkeh antara 18 persen-20 persen, kretek non filter membutuhkan cengkeh lebih banyak antara 30 persen-40 persen.

Adapun harga jual rokok kretek berkisar Rp 3.000-Rp 4.000 per bungkus. Sedangkan anggota formasi yang sebagian besar pabrik rokok kecil kini mulai tertekan.

Sekitar 1.500 perusahaan rokok kecil dan menengah bakal merugi jika harga cengkeh tak kembali stabil. "Melihat kondisi ini, Formasi mendesak pemerintah untuk segera turun tangan mengendalikan harga cengkeh di pasaran. Selain itu, harus mematok harga sesuai golongan untuk menyelamatkan produsen rokok kecil," tegas Heri.


Penulis: Kontributor Malang, Yatimul Ainun
Editor : Kistyarini