Sabtu, 1 November 2014

News / Regional

Bencana Alam

1.500 Rumah Terendam Banjir di Solo dan Sekitarnya

Senin, 7 Januari 2013 | 08:26 WIB

SOLO, KOMPAS.com -- Lebih dari 1.500 rumah terendam banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo yang melewati wilayah bekas Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah, seperti di Kota Solo, Kabupaten Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, dan Wonogiri. Selain itu, lebih dari 600 hektar lahan pertanian dan kandang-kandang ternak juga terendam banjir, yakni di Kabupaten Klaten, Sragen, dan Karanganyar.

Hujan deras yang mengguyur selama beberapa waktu terakhir menyebabkan Sungai Bengawan Solo dan anak-anak sungai yang melintasi wilayah eks Karesidenan Surakarta penuh dan puncaknya meluap sehingga mengakibatkan banjir, Minggu (6/1/2013) dinihari. Selain itu juga terjadi longsor di beberapa wilayah namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Di Kota Solo, sedikitnya 800 rumah yang dihuni lebih dari 1.000 jiwa terendam banjir. Banjir terjadi di delapan kelurahan di tiga kecamatan, yakni Jebres, Pasar Kliwon, dan Serengan. Sebagian besar warga mengungsi ke rumah kerabat atau sanak saudara dan ke tenda-tenda yang didirikan di atas tanggul.

"Rumah-rumah yang kebanjiran hampir semuanya yang berada di dalam tanggul dalam proses untuk relokasi. Sebagian kecil di dekat aliran sungai yang belum tanggulnya belum ditinggikan atau belum ada parapetnya (tembok pembatas)," kata Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo.

Warga Kampung Beton, Kelurahan Sewu, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Jayusman (47) mengungkapkan, air mulai masuk rumahnya pukul 24.00 dan puncaknya hingga mencapai semeter. Istri dan anaknya diungsikan ke atas tanggul.

Jayusman sudah mendapat ganti rugi relokasi rumahnya di bantaran Bengawan Solo yang hanya berjarak 50 meter dari bibir sungai. Namun ia masih mencari tanah pengganti karena belum sebulan ganti rugi diterima.

Di Kabupaten Karangnyar, banjir merendam 56 rumah yang dihuni 200 jiwa, satu masjid, dan sejumlah kandang ternak di Desa Ngringo dan Desa Sroyo di Kecamatan Jaten. "Ketinggian air sampai mencapai dua meter," kata Camat Jaten Titik Umarni.

Di Kabupaten Sukoharjo, banjir merendam lebih dari 600 rumah di beberapa desa di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Grogol, dan Mojolaban. Terjadi pula longsor yang menyebabkan enam rumah rusak di Desa Kedungsono, Kecamatan Bulu, ada yang berlokasi di tepi sungai, ada yang di perbukitan.

"Banjir di sini karena luapan Bengawan Solo dan anak sungainya, Kali Samin dan Kali Dengkeng. Kalau hujan kembali akan banjir lagi," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukoharjo Suprapto.

Di Kabupaten Klaten, banjir merendam 20 hektar lahan padi usia satu bulan di Desa Barepan, Kecamatan Cawas. Banjir juga merendam 100 hektar lahan padi di Desa Serenan, Kecamatan Juwiring. "Satu rumah di tepi Sungai Bengawan Solo juga longsor karena terkikis aliran air," kata Camat Juwiring Jaka Hendrawan.

Di Kabupaten Wonogiri, banjir merendam 62 rumah di Desa Gemantar dan Desa Jaten di Kecamatan Selogiri. Camat Selogiri Bambang Haryanto menambahkan, terjadi juga longsor di empat lokasi di Desa Keloran dan Desa Kepatihan yang menimpa rumah dan saluran irigasi.

Di Kabupaten Sragen, banjir merendam lahan pertanian di Kecamatan Tanon, Masaran, Sragen, Sidoharjo, Plupuh, Jenar, dan Tangen. Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Sragen Suharto mengungkapkan, di Tanon saja ada 416 hektar lahan pertanian terendam banjir, antara lain lahan padi, cabai, pare, kacang panjang, dan melon.


Penulis: Sri Rejeki
Editor : Nasru Alam Aziz