Sabtu, 20 September 2014

News /

Limbah Paiton Dipersoalkan

Selasa, 4 Desember 2012 | 03:03 WIB

Probolinggo, Kompas - Nelayan Desa Binor, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, memprotes rusaknya terumbu karang di perairan setempat. Diduga hal itu disebabkan oleh limbah dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap Paiton Unit IX.

Lokasi PLTU tersebut berada di Kecamatan Paiton, 1 kilometer arah timur Desa Binor.

”Terumbu karang sebelumnya berwarna hijau lumut, tetapi saat ini kondisinya putih karena sudah mati. Akibatnya, banyak biota laut yang biasanya berlindung di karang kini sudah tak ditemukan lagi,” ujar Sahri (55), nelayan asal Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin (3/12).

Kerusakan terumbu karang itu, menurut warga setempat, terasa sejak dua bulan lalu. Kerang, udang rebon (bahan terasi), dan sejumlah ikan lain yang biasanya mudah ditangkap di pinggir pantai saat ini jumlahnya jauh berkurang.

”Biasanya sehari minimal 5-7 kilogram kerang bisa didapat dengan mudah dalam sehari. Sekarang 1 kilogram sehari sudah sangat baik,” imbuh Kholiq (50), nelayan lain di Desa Binor.

Sahri dan Kholiq menuturkan, selama ini, minimal mereka bisa mendapatkan lauk-pauk untuk makan sehari-hari dengan mudah. Kini, untuk lauk saja, ikan sudah susah didapat.

Mereka meminta agar pemerintah mengatasi persoalan tersebut. Misalnya dengan menutup sementara pembuangan limbah PLTU Paiton Unit IX hingga terumbu karang pulih kembali. ”Kami tak ingin anak cucu kami tidak tahu seperti apa terumbu karang yang baik itu,” ujar Sahri.

Sahri menyarankan, sebelum dioperasikan kembali, jalur pembuangan limbah PLTU Paiton Unit IX diperbaiki. ”Bisa saja saluran limbah itu dibuat lebih dalam atau lebih menjorok ke laut sehingga tidak berdampak langsung pada terumbu karang di tepi pantai,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Nikita, dari bagian Humas PLN Pembangkitan Lontar di Semarang, Jawa Tengah, sebagai pengendali PLTU Paiton Unit IX, menolak jika persoalan itu ditimpakan kepada PLTU Paiton Unit IX. Hal itu karena PLTU Paiton Unit IX sendiri saat ini belum beroperasi dan baru pada tahap uji coba sejak Agustus 2012 lalu.

”Kami baru dalam tahap uji coba dan belum beroperasi. Uji coba baru dilakukan Agustus lalu,” ujar Nikita.

Nikita menambahkan, selama ini pihaknya selalu bekerja sama dengan badan penelitian lingkungan hidup Universitas Brawijaya, Malang, untuk memantau dampak lingkungan terkait dengan aktivitas PLTU Paiton IX.

”Berdasarkan laporan terakhir, yaitu Oktober lalu, keseimbangan alam di sekitar wilayah kami masih dalam batas wajar atau seimbang. Rasanya tidak tepat jika kerusakan terumbu karang dikaitkan dengan kami,” ujarnya.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Probolinggo Dedi Isfandi menuturkan, mereka tidak bisa berbuat banyak mengenai kerusakan tersebut. Itu disebabkan wilayah di Desa Binor, tepatnya di sekitar PLTU Paiton, masuk wilayah kerja PLTU. ”PLTU Paiton adalah obyek vital negara. Masalah di dalam wilayah kerjanya tanggung jawab bersangkutan,” ujar Dedi. (DIA)


Editor :