Jumat, 1 Agustus 2014

News / Regional

PLTA Cirata

1.000 Perahu Bersihkan Waduk Cirata

Sabtu, 24 November 2012 | 19:45 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com -- Sebanyak 1.000 perahu masyarakat digerakan untuk membersihkan sampah, terutama eceng gondok yang mencemari Waduk Cirata, Jawa Barat, Sabtu (24/11/2012). Gelar akbar pembersihan waduk terbesar di Asia Tenggara ini dilakukan menandai Hari Listrik Nasional ke-67 dan tiga windu operasional PLTA Cirata.

Pembina Masyarakat Cinta Citarum (MCPC) Kuntoro Mangkusubroto, yang membuka acara itu, meminta agar pembersihan sampah ini dilakukan secara berkelanjutan. Pasalnya pencemaran di waduk ini telah mengganggu turbin pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata yang memasok listri pada interkoneksi Jawa-Bali.

Waduk ini harus dikelola dan dikendalikan secara baik. Pasalnya tingkat sedimentasi waduk ini sudah mencapai 7,30 juta meter per tahun, padahal batas tolerasinya hanya 5,7 juta meter kubik per tahun. Dengan sedimentasi yang tinggi ini diperkirakan umur operasional PLTA Cirata hanya 60 tahun dari prakiraan umur desain 100 tahun.

Artinya setelah beroperasi selama 24 tahun sejak 1988 diperkirakan umur operasional PLTA Cirata tinggal 36 tahun lagi. "Bayangkan sudah dibangun susah dengan biaya yang mahal, umurnya sangat pendek. Yang susah itu membersikan dasar waduk," kata Kuntoro.

DAS Citarum rusak

Direktur Utama PT Pembangkitan Jawa Bali Susanto Purnomo menjelaskan, pemanfaatan Waduk Cirata tidak terkendali antara lain karena belum siapnya perangkat aturan. Di lapangan terjadi tumpang tindih kepentingan pembangunan daerah, dan perubahan kondisi lingkungan biofisik. Kondisi itu menimbulkan permasalahan yang menekan dan membebani daya dukung waduk dan lingkungannya.

Daerah aliran Sungai (DAS) Citarum yang pemasok air ke waduk ini telah rusak dari hulu hingga hilir. Pemanfaatan lahan surutan oleh petani lokal dan perkembangan usaha Keramba Jaring Apung (KJA) yang mencapai 56.000 unit, melebihi jumlah yang ditetapkan Gubernur Jawa Barat yaitu 12.000 unit (SK Nomor 41 tahun 2002).

Padatnya KJA berkontribusi pada degradasi kualitas dan kuantitas air akibat limbah yang dihasilkannya. Di kawasan hulu sungai juga berlangsung alih fungsi lahan konservasi menjadi lahan budidaya dengan teknologi yang tidak ramah lingkungan.

Ketua Panitia Maman Suherman menjelaskan, kegiatan ini melibatkan 3000 peserta dari berbagai unsur masyarakat dan TNI serta didukung 1.000 perahu. Gerakan sapu bersih waduk ini dilakukan di empat lokasi, yaitu Gandasuli (Kabupaten Bandung Barat), Tegaldatar (Kabupaten Purwakarta), Jangari (Kabupaten Cianjur) dan sekitar bendungan Cirata (Kabupaten Bandung Barat).


Penulis: Dedi Muhtadi
Editor : Nasru Alam Aziz