Jumat, 1 Agustus 2014

News / Regional

Seribu Pelajar Banyuwangi Menari Gandrung

Minggu, 18 November 2012 | 00:21 WIB

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Seribu lebih pelajar SD, SMP, dan SMA di Kabupaten Banyuwangi menari Gandrung secara massal di Pantai Boom Banyuwangi, Sabtu (17/11/2012) sore. Menari Gandrung massal diharapkan mampu menambah kecintaan para pelajar terhadap budaya lokal.

Pagelaran yang diberinama 'Gandrung Sewu' itu, kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, dikemas tidak hanya tarian semata, namun lengkap dengan drama kolosal sejarah tari Gandrung Banyuwangi. ''Dikemas dengan cerita kolosal agar masyarakat tahu sejarah tarian Gandrung,'' katanya.

Dibuka dengan cerita VOC Belanda yang menguasai Banyuwangi dan memperbudak rakyat Banyuwangi. Setelah melakukan penyiksaan kepada warga pribumi, para penjajah biasa berpesta dengan menari diiringi penari gandrung yang saat itu bukan perempuan, namun laki-laki.

Perlawanan terus dilakukan oleh pribumi, hingga pada saat Belanda berhasil diusir dari bumi Indonesia. Namun tari Gandrung tetap dilestarikan hingga sekarang sebagai warisan budaya Banyuwangi.

Gandrung Sewu adalah salah satu agenda Pemkab Banyuwangi dalam Festival Banyuwangi 2012, meramaikan Hari Jadi Ke-214 Banyuwangi. Selain melibatkan ribuan pelajar, Gandrung Sewu juga melibatkan kalangan profesional.

Selain Gandrung Sewu, Festival Banyuwangi 2012 yang digelar 15 November hingga 22 Desember itu juga diramaikan dengan berbagai event tradisional seperti Festival Anak Yatim, Festival Kuwung, tradisional dengan budaya modern yang tersaji seperti dalam acara Banyuwangi Jazz Festival, Festival Anak Yatim, dan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Entus Susmono.


Editor : Aloysius Gonsaga Angi Ebo