Kamis, 18 September 2014

News / Regional

Mempertahankan Lokasi Dulangan Emas

Jumat, 16 November 2012 | 09:16 WIB

KOLAKA, KOMPAS.com - Meskipun berada jauh dari pusat pemukiman, warga Desa Sopura, Kolaka, Sulawesi Tenggara, membangun tenda darurat di tengah hutan. Hal ini dilakukan agar lokasi pendulangan emas mereka tidak dicaplok oleh warga lainnya.

Cara ini mereka nilai cukup efektif karena satu-satunya solusi yang mereka dapatkan untuk mempertahankan 'wilayah kekuasaannya'. Hasrul misalnya, saat berangkat pagi tadi ke lokasi tambang emas dadakan yang berjarak sekitar 10 kilometer dari perkampungan, telah mempersiapkan terpal dengan ukuran sedang yang akan digunakan sebagai tenda darurat.

"Kalau ada yang seperti ini kita harus pintar untuk mempertahankan lokasi yang kita dulang. Misalnya kalau sudah dapat satu titik yang banyak emasnya, itu harus dijaga betul. Di sinikan orang banyak yang datang, jadi harus kita jaga tempat kita mendulang," ungkapnya, Kamis (15/11/2012).

Hasrul menjelaskan, biasanya kalau ada lokasi tambang emas dadakan yang terbuka, maka pendulang dari wilayah lain di luar Kolaka akan datang ke lokasi tersebut.

"Sangat penting, tenda yang kita buat di tengah hutan ini sekaligus untuk mencegah orang baru masuk di lokasi dadakan ini dan mengambil tempat kita mendulang. Ini pasti dilakukan juga di daerah lain yang ada tambang emas rakyatnya. Karena yang saya lihat di TV dan dengar cerita orang seperti itu," tambahnya.

Meskipun tambang emas dadakan, bukan berarti warga yang mendulang di tempat ini tidak mahir. Ini terlihat dari cara mereka memisahkan emas dari butiran pasir-pasir halus, hingga menggunakan mesin sedotan untuk mendapatkan hasil emas yang banyak.

Beberapa tahun lalu, ditemukan tambang emas di Kabupaten Bombana yang diolah besar-besaran, baik itu oleh warga maupun perusahaan. Cara mendulangnya pun sangat sederhana.

"Penggorengan kita goyang-goyangkan untuk memisahkan pasir dari emas. Cara inilah yang dulu kita gunakan di Bombana. Itu di samping saya yang gunakan mesin dan karpet agar bisa dapat emas yang banyak," tutur Leha, salah satu pendulang emas.

Sayangnya, warga yang mata pencariannya dari mendulang emas ini tidak menyadari dampak dan bahaya yang akan mereka rasakan dari pekerjaan tersebut. Penggunaan zat kimia, air keras atau merkuri akan memengaruhi kualitas air sungai yang kerap digunakan untuk mandi, mencuci, dan air minum. Dan itu akan mengganggu kesehatan mereka secara tidak langsung.

 


Penulis: Kontributor Kolaka, Suparman Sultan
Editor : Ana Shofiana Syatiri