Kamis, 2 Oktober 2014

News / Regional

Protes Pungutan, Siswa SMK Mogok Belajar

Selasa, 6 November 2012 | 16:59 WIB

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com - Protes terhadap maraknya pungutan liar alias pungli, ratusan siswa SMK Campalagian, Polewali Mandar, Sulawesi Barat menggelar aksi mogok belajar.

Dialog antara siswa dan guru untuk menjembatani aksi protres para siswa Selasa (6/11/2012), diwarnai sejumlah pertanyaan kritis. Namun jawaban yang dilontarkan pihak sekolah tak mampu memuaskan para siswa.

Ada siswa yang mempertanyakan pungutan sumbangan Rp 200 ribu yang dibebakan kepada setiap siswa. Mereka menilai pungutan yang diklaim hasil kesepakatan orangtua siswa dan komite sekolah tersebut sarat rekayasa dan persekongkolan antara pihak sekolah dengan komite. Sejumlah siswa lainnya mengkritisi tingginya pembayaran uang praktik lapangan yang mencapai Rp 500 ribu per siswa.

Sementara siswa lainnya mempertanyakan pungutan sumbangan pembuatan baju olahraga, namun baju tersebut belum juga diberikan hingga siswanya sudah hampir tamat sekolah.

Dian, salah seorang siswa, menilai banyak item pungutan yang dibebankan pada siswa tak rasional dan tidak transparan. Pembayaran uang praktik lapangan, misalnya, dinilai terlalu besar dan membebani para sisawa. Menurut Dian, biaya praktik lapangan tak perlu semahal itu sebab saat praktik, mulai dari pemberangkatan sampai kembali ke sekolah justru dibiayai sendiri para siswa, bukan bersumber dari dana pungutan yang dikumpulkan sekolah.

"Banyak hal yang tidak rasional dan transfaran," tegas Dian.

Kepala SMK Negeri Campalagian, Masdar Saleh mengatakan, segala bentuk pungutan yang dilakukan pihak sekolah sudah melalui kesepakatan dan persetujuan para orangtua siswa. Protes para siswa dan orangtua mereka, menurut Masdar, tidak beralasan karena sudah diputuskan komite bersama orangtua siswa.

"Semua yang dilakukan pihak skeolah sudah merupakana kesepakatan komite dan orang tua siswa," tegas Masdar.

Namun alasan yang disampaikan Masdar dibantah para siswa. Sejumlah siswa mengatakan, rapat yang digelar para guru, komite dan sejumlah orangtua siswa, dinilai sarat rekayasa. Justru banyak orang tua siswa mengaku tak hadir lantaran tak mendapat undangan rapat. Mereka baru kaget saat anak mereka diminta sejumlah uang yang dinilai sangat memberatkan orangtua siswa.

Tak puas atas jawaban Masdar, para siswa menyatakan akan terus melakukan aksi mogok belajar. Para siswa menuntut transparansi penggunaan dana sekolah sebagai bentuk pertanggungjawaban publik yang patut diketahui para siswa dan orang tua mereka.


Penulis: Kontributor Polewali, Junaedi
Editor : Farid Assifa