Selasa, 29 Juli 2014

News / Travel

Batik Tanah Liek, Khas Minangkabau yang Liat

Selasa, 9 Oktober 2012 | 13:28 WIB

WARNA dasar kain yang tidak biasa, teduh dan memancarkan aura elegan, menjadi daya tarik utama batik tanah liek (liat) khas Minangkabau. Warna dasar yang cenderung krem atau coklat muda itu diperoleh dari hasil perendaman kain di dalam larutan cairan tanah liat.

Di atasnya beragam motif Minang dilukis dengan ketelitian tinggi yang tampak hidup dengan pewarna alami. Motif-motif tersebut biasanya diambil dari beragam jenis ukiran yang terdapat di rumah-rumah gadang.

Sebutlah, misalnya, motif itiak pulang patang, kaluak paku, atau gambar yang merujuk pada ikon Sumatera Barat seperti Jam Gadang di Bukittinggi dan Rumah Gadang dengan atap bagonjong. Motif-motif Minang yang dilukis pada kain itu punya makna filosofis tertentu.

Di antaranya motif kaluak paku kacang belimbing, anak dipangku kemenakan dibimbing, yang berarti keharusan agar orangtua menunaikan kewajibannya kepada anak dan keponakan sekaligus. Motif-motif tersebut dicanting atau diaplikasikan di atas kain dengan lilin (malam) yang didatangkan dari Pulau Jawa.

Prosesnya dimulai dengan perendaman kain dalam larutan cairan tanah liat selama dua hari. Dua hari berikutnya adalah proses canting dengan lilin atau malam. Selanjutnya diberikan pewarna alami dari getah beberapa jenis tanaman.

Misalnya saja yang terdapat di kulit rambutan dan kulit jengkol untuk warna hitam dan coklat, gambir untuk warna oranye, manggis untuk warna ungu, dan kunyit untuk warna kuning. Langkah terakhir, kain batik tanah liek lantas dikeringkan sebelum dipasarkan.

Baru populer

Namun, batik tanah liek relatif baru saja populer sebagai salah satu kekhasan dari Minangkabau dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, hingga sekitar 18 tahun lalu batik tanah liek belum diketahui masyarakat umum.

Wirda Hanim, pemilik usaha batik tanah liek Citra Monalisa di Kota Padang, mengawali upaya memproduksi kembali batik tanah liek yang saat itu sudah mulai langka. Wirda ketika itu kerap mengikuti upacara adat di Sumanik, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar.

Kini usaha Wirda telah membuahkan hasil. Dengan batik tanah liek yang dipasarkan seharga Rp 600.000 hingga Rp 1,4 juta per helai menembus pasar dengan meyakinkan.

Usaha batik tanah liek yang diupayakannya pun telah menyebar hingga ke sejumlah daerah di Sumbar. Salah seorang yang sempat mempelajari cara pembuatan batik tanah liek itu ialah Fitra Lusia.

Kini, dengan bendera usaha Rumah Kain Ayesha dan Batik Tanah Liek Inaaya, Fitra mempekerjakan 30 tenaga kerja. Sebagian besar perajin batik tanah liek itu merupakan ibu rumah tangga.

”Rata-rata setiap orang perajin bisa mendapat uang mulai dari Rp 1,2 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan,” kata Fitra.

Yang menarik, pengerjaan kain-kain batik tanah liek itu dilakukan di rumah masing-masing. Perajin tinggal mengambil kain dan lilin lalu melakukan pembatikan di rumah sembari melakukan sejumlah pekerjaan domestik.  (Ingki Rinaldi)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: