Kamis, 17 April 2014

News /

Titik Panas Baru di Timur Tengah

Sabtu, 6 Oktober 2012 | 01:47 WIB

Baca juga

Beirut, Jumat - Ketegangan di perbatasan Turki dan Suriah membuktikan konflik internal Suriah bisa menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam konflik. Dengan kata lain, konflik ini bisa menjadi titik panas baru di Timur Tengah yang sudah lama bergejolak. Demikian dikatakan para pengamat, Jumat (5/10).

Pemicu munculnya sumber titik panas itu adalah aksi pemberangusan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad terhadap warga non-Alawite. Hal ini, di sisi lain, memicu eksodus bagi warga Sunni, Kristen, dan Yahudi ke negara-negara tetangga Suriah, seperti Turki, Irak, Lebanon, Jordania, dan Israel. Sebenarnya, semua subetnis di Suriah hidup dalam kerukunan selama ini.

Dalam perkembangan terbaru, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kamis, mengecam tindakan penembakan dengan mortir dari Suriah ke wilayah Turki, yang dibalas dengan dua kali serangan dari Turki ke wilayah Suriah. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon di New York, Amerika Serikat, meminta negara di kawasan mengambil sikap untuk menahan diri.

Bisa membesar

Meski demikian, titik rawan tetap bisa membesar jika ketidakstabilan di Suriah berlanjut. Tak ada negara yang menginginkan kawasan berkembang menjadi titik panas yang dipicu 18 bulan pemberontakan prodemokrasi di Suriah. Akan tetapi, prahara di Suriah akan mudah menjerumuskan kawasan ke ”api” yang membesar.

Turki menuduh Suriah menggunakan pejuang Partai Pekerja Kurdistan di Turki (PKK) untuk mengacaukan stabilitas di Turki.

Turki juga memiliki wilayah dengan mayoritas berpenduduk Kurdi yang tidak akur dengan Ankara.

”Tidak ada negara-negara yang berbatasan dengan Suriah yang tidak merasa terancam dengan prahara di Suriah,” kata Aram Nerguizian dari The Center for Strategic and International Studies, di Washington DC, AS.

Selama aksi pemberontakan di Suriah, selongsong peluru dan pecahan mortir sudah mendarat di sepanjang perbatasan Suriah dengan negara tetangga. Kondisi di Irak juga memanas akibat tekanan terhadap Sunni di Suriah yang melawan Assad.

Makin panas

Kebencian Irak ditambah dengan aksi pengiriman bantuan pasukan oleh Iran lewat udara Irak ke Suriah. Ini semakin memperdalam kebencian Sunni Irak terhadap Iran yang mayoritas berpenduduk Syiah.

Lebanon juga terseret dari segi sentimen sektarian karena Hezbollah Lebanon turut mendukung Pemerintah Suriah membantu Assad.

Negara yang paling geram sekarang adalah Turki, yang sudah mengerahkan pasukan ke perbatasan walau Turki menyatakan tidak berminat menyatakan perang dengan Suriah, sebagaimana dikatakan Ayham Kamel, analis Timur Tengah dari Eurasia Group di London, Inggris.

”Saya kira tidak ada pihak di Lebanon yang ingin tersulut bentrokan sektarian di Lebanon,” kata Michael Young, editor Daily Star, harian di Lebanon.

Akan tetapi, jika pemberontakan di Suriah yang sudah berkembang menjadi gerakan sektarian tetap memburuk, hal ini akan mudah memicu kegemparan di Lebanon.

Perkembangan terbaru di Suriah juga bisa menyeret dunia ke dalam perseteruan. Negara di Eropa, AS, dan kawasan Arab menghendaki rezim Assad mundur. Namun, China, Rusia, dan Iran menginginkan lain.

Hingga hari Jumat, aksi pemberangusan rezim terhadap warga yang memberontak terus berlanjut. ”Tindakan rezim semakin brutal,” kata Abu Rami, aktivis Suriah di Homs, tentang serangan terbaru ke kota Homs.

Di sisi lain, pasukan oposisi di Suriah juga dikabarkan telah mengambil alih basis pertahanan udara Suriah di pinggiran Damaskus.

(REUTERS/AP/AFP/MON)


Editor :