Minggu, 21 Desember 2014

News / Regional

Keluarga Yakin Maulana Tewas Akibat Kekerasan Fisik

Senin, 1 Oktober 2012 | 18:37 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Keluarga calon taruna BP2IP Surabaya yang ditemukan tewas di kolam latihan mendesak polisi agar mengusut tuntas kasus kematian Maulana Ainul Yakin (19). Keluarga yakin korban mengalami kekerasan sebelum meninggal.

Paman korban, Syawir memang belum menerima hasil otopsi rumah sakit, namun dari pemeriksaan awal yang dilakukan keluarga, korban menderita luka di antaranya di pipi kanan, bagian belakang kepala, dan posisi rahang yang terlihat masuk ke dalam.

''Kalau hanya tenggelam di kolam tidak mungkin sampai ada luka serius di tubuh keponakan saya,'' kata Syawir, Senin (1/10/2012).

Karena itu, dia meminta polisi agar mengusut kasus ini sampai tuntas, dan pelakunya memperoleh hukuman seberat-beratnya.

Sementara jenazah korban, dini hari tadi usai diotopsi di RSU dr Soetomo Surabaya langsung dibawa ke rumah duka di Desa Jedung Kecamatan Trageh, Kabupaten Bangkalan, dan dimakamkan pagi hari tadi.

Sebelumnya, pihak BP2IP Surabaya melalui Perwira Aktivitas, Aris Jamaan membantah telah terjadi aksi kontak fisik pada kegiatan calon taruna.

Kegiatan calon taruna yang bersifat penekanan fisik seperti merayap, lari, dan koprol hanya bertujuan untuk membentuk fisik calon taruna agar lebih siap menghadapi keadaan apapun di laut. Iitupun kata Aris dilakukan saat Masa Orientasi Disiplin (MOD) selama tiga bulan, sebagai salah satu persyaratan wajib bagi taruna yang menjalani program Diklat Pelaut (DP) III Pembentukan.

Sementara itu, korban dinyatakan hilang di tengah rangkaian kegiatan Outdoor Management Training (OMT) yang merupakan kegiatan menjelang MOD.


Penulis: Kontributor Surabaya, Achmad Faizal
Editor : Farid Assifa