Sabtu, 20 September 2014

News /

PALAWIJA

Permintaan Kedelai Hitam Tinggi

Senin, 1 Oktober 2012 | 02:45 WIB

Madiun, Kompas - Permintaan kedelai hitam untuk industri kecap terus meningkat. Selain kandungan protein dan karbohidratnya sangat tinggi, kedelai hitam juga dapat menekan kandungan kolesterol dalam darah.

Hingga saat ini belum banyak petani yang mengembangkan kedelai hitam. Padahal, harga jual kedelai hitam lebih tinggi dari kedelai kuning. Jaminan pasar juga tersedia.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Hasil Sembiring, Sabtu (29/9) di Madiun, Jawa Timur, mengungkapkan, pemenuhan kebutuhan kedelai sebagai bahan baku kecap masih dipasok dari kedelai kuning dan masih harus mengimpor.

Industri kecap memerlukan pasokan kedelai hitam sebagai bahan baku cukup tinggi setiap tahunnya. Cita rasa kedelai hitam yang khas dan memiliki kandungan protein baru bisa dipenuhi 50 persen sampai 60 persen. Peluang pasarnya masih besar. Selain itu, harga jual kedelai hitam Rp 700 sampai Rp 1.000 per kilogram, di atas kedelai kuning.

Hasil mengungkapkan, dari total konsumsi kedelai nasional 1,8 juta ton per tahun, sebesar 83,7 persen dimanfaatkan untuk produksi tahu dan tempe, 14,7 persen industri kecap dan tauco, 1,2 persen untuk benih, dan 0,4 persen untuk pakan. Dari kebutuhan itu, produksi dalam negeri baru memberikan kontribusi 750.000 ton.

Dalam acara panen dan temu wicara teknologi budidaya kedelai hitam dan kacang hijau di Kecamatan Pilangkenceng, Madiun, 29 September, para petani antusias membudidayakan kedelai hitam. Panen kedelai hitam varietas Detam 1 dan Detam 2 dilakukan di lahan percontohan seluas 5 hektar.

”Kementan akan terus mendorong pengembangan kedelai hitam,” katanya.

Sirep, Ketua Kelompok Tani Kedung Rejeki di Desa Kedung Banteng, mulai menanam Detam 1 seluas 0,65 hektar. Jarak tanam 40 x 15 cm. Namun, pada musim tanam berikutnya dia akan mencoba 40 x 25 cm.

Produktivitas Detam 1 lebih tinggi dari Detam 2, mencapai 1,5 ton per hektar. Potensinya bisa mencapai 3,5 ton. (NIK/MAS)


Editor :