Kamis, 24 Juli 2014

News / Regional

Di Majene, Warga Berburu Air ke Desa Tetangga

Minggu, 16 September 2012 | 21:19 WIB

MAJENE, KOMPAS.com - Kekeringan yang melanda Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, membuat warga semakin sulit mendapatkan air untuk masak dan minum. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa berjalan kaki hingga dua kilometer ke desa tetangga untuk mencari air bersih.

Sumber air bersih milik PDAM di desa tetangga menjadi tumpuan harapan warga satu-ratunya. Debit air yang tidak seberapa di lokasi ini membuat warga harus antre berjam-jam agar bisa pulang membawa air. Warga yang datang paling belakang harus bersabar menunggu giliran warga yang datang lebih awal.

Demi mendapatkan air bersih, sejumlah warga bahkan rela berjalan kaki sejauh dua kilometer lebih untuk memperoleh air bersih ke desa tetangga. Adapun warga lainnya mengambil air menggunakan sepeda, gerobak, atau memikul dan menjunjungnya sambil berjalan kaki.

Kesulitan mendapatkan air bersih itu dirasakan oleh warga Barane, Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene. Setiap pagi dan sore, mereka mengantre untuk mendapatkan air bersih di salah satu bak penampungan milik PDAM setempat. Debit air yang terbatas dan tak sebanding dengan jumlah warga yang membutuhkan air membuat warga harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan giliran mengambil air bersih.

Sejumlah pemilik jerigen yang tak tahan mengantre berjam-jam terpaksa meninggalkan jeriken mereka di lokasi agar tetap bisa mendapatkan air bersih sesuai urutan antre sebelum warga lain yang datang paling belakang.

Salah seorang warga yang turut mengantre, Rohana, mengatakan, ia harus berjalan kaki sekitar satu kilometer dari rumahnya hanya untuk berburu air minum. Ini dilakukan karena sumur milik Rohana mengalami kekeringan selama tiga bulan. Jaringan air bersih dari PDAM ke rumahnya hanya berfungsi 10 hari sekali, itu pun air kerap tak sampai ke rumahnya lantaran debit air terbatas sedangkan jumlah warga yang membutuhkan jauh lebih banyak.

"Tiap hari terpaksa harus meluangkan waktu agar tetap bisa dapat air bersih hanya untuk masak dan minum. Pekerjaan lain terpaksa terbengkalai," ujar Rohana, Minggu (16/9/2012).

Antrean warga di satu-satunya tempat penampungan air ini terjadi sejak empat bulan terakhir. Warga terpaksa mengantre di tempat itu karena sumur-sumur yang menjadi sandaran mereka selama ini sudah lama mengering. Agar air bisa dinikmati oleh banyak warga, mereka terpaksa menjatah empat jeriken atau 20 liter per kepala keluarga.

Masalah tak berhenti sampai di situ karena suplai air bersih dari PDAM setempat hanya sekali dalam sepekan. Kalaupun mengalir lebih dari itu, air tak dapat sampai ke rumah penduduk karena debitnya sangat kecil.

Krisis air bersih juga dialami warga Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae Timur. Itu terjadi karena sumur warga mengering bersamaan dengan datangnya musim kemarau. Warga terpaksa harus berjalan kaki ke desa tetangga untuk mencari sumber air bersih.


Penulis: Kontributor Polewali, Junaedi
Editor : Laksono Hari W