Selasa, 21 Oktober 2014

News / Regional

Penembakan

WNI Diduga Jadi Korban Perdagangan Organ

Rabu, 12 September 2012 | 20:24 WIB

Terkait

BATAM, KOMPAS.com — Lima WNI yang ditembak mati oleh polisi Malaysia diduga menjadi korban perdagangan organ tubuh. Dugaan itu disampaikan Fitra Susanti (27), istri Osnan (37), yang merupakan salah satu korban penembakan, Rabu (12/9/2012) malam, di Batam, Kepulauan Riau.

Osnan bersama Jony (35), Hamid, Diden, dan Mahno ditembak mati polisi Malaysia. Kecuali Mahno, semua korban tinggal di kawasan Bengkong Pertiwi, Batam. AdapunMahno berasal dari Madura yang sudah lama menetap di Ipoh, Negara Bagian Perak, Malaysia.

"Saya pernah dengar berita WNI ditembak polisi Malaysia terus organ tubuhnya diambil. Polisi di sana beralasan WNI pelaku kejahatan. Saya yakin suami saya hanya jadi buruh kebun sawit," ujar Santi.

Santi mendapat kepastian Osnan dan tiga temannya tewas pada Minggu (9/9/2012) malam. Sementara kabar penembakan Diden diterima Senin (10/9/2012) malam. Hingga Rabu malam, jenazah mereka masih berada di Hospital Raja Permaisuri Bainoon, Ipoh.

Secara terpisah, Devi Trista (28), istri Jony, mengatakan, sudah mendapat foto para korban. Dalam foto itu terlihat kelopak mata suaminya dijahit. Ia juga melihat jahitan dari dada hingga ke perut korban.

"Saya takut organ tubuh suami saya diambil orang Malaysia," ujar ibu dua anak itu.

Berdasarkan catatan Kompas, penembakan lima orang itu merupakan yang ketiga dalam tujuh bulan terakhir. Maret 2012, Abdul Kadir Jaelani (25), Herman (34), dan Mad Noor (28) dari Nusa Tenggara Barat ditembak polisi Malaysia di Port Dickson, Negeri Sembilan. Juni 2012, tiga orang asal Jawa Timur ditembak mati di Kuala Lumpur.

Terakhir, polisi Malaysia menembak mati Jony dan empat orang lain pada September 2012.

Polisi Malaysia mengklaim para korban ditembak karena dipergoki akan merampok. Kecuali terhadap tiga korban tewas pada Juni 2012, tuduhan itu tidak dibuktikan. Untuk tiga korban pada Juni 2012, polisi Malaysia mengajukan alasan mereka menembaki polisi sebelum tewas.


Penulis: Kris R Mada
Editor : Marcus Suprihadi