Rabu, 22 Oktober 2014

News /

MENJAGA NUSANTARA

Belajar dari Banjir Bandang Bukit Lawang

Jumat, 24 Agustus 2012 | 02:38 WIB

Sungai Bahorok marah karena hutan rusak. Banjir bandang menghantam perkampungan, menewaskan sedikitnya 200 orang pada tahun 2003. Kini masyarakat sadar kelestarian hutan harus dijaga.

Abdul Halim (60) menata botol air mineral dan minuman bersoda di atas meja kayu. Istrinya, Aslah (42), sibuk menata mi instan dan sayuran dalam lemari etalase yang terbuat dari kayu dan kaca. Mereka berdua berjualan di warung kayu beratap terpal persis di tepi Sungai Bahorok, Desa Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Lokasi ini ramai dikunjungi pelancong lokal ataupun mancanegara. Daya tarik utamanya adalah orangutan (Pongo abelii) di hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Pintu masuk taman ini cuma 25 meter dari tempat Abdul berjualan.

Saat liburan panjang, pendapatan mereka bisa mencapai Rp 200.000 per hari. Di hari biasa hanya seperempatnya. Jika jumlah pelancong merosot, Abdul memilih berkebun.

Sepuluh tahun lalu Abdul termasuk orang berada di Bukit Lawang. Ia memiliki hotel berlantai tiga dengan 50 kamar di tepi Sungai Bahorok. Hotel itu dia bangun sejak tahun 1986 dengan nama Bahorok River. Saat musim puncak liburan, pemasukan hotel tak kurang dari Rp 7 juta per hari. Bangunan yang tergolong mewah itu sempat ditawar pendatang Rp 2 miliar.

Saat itu belasan hotel serupa juga berdiri di bantaran sungai. Sebagian bangunan hotel berada di atas sungai.

Banjir bandang

Saat itu bulan puasa, bertepatan bulan November 2003. Hujan lebat turun berhari-hari di Langkat Hulu, termasuk Bukit Lawang. Saat warga tarawih terdengar suara gemuruh. Air beserta lumpur, pasir, batu, dan kayu datang menghantam.

Bangunan di sepanjang tepi Sungai Bahorok, termasuk Hotel Bahorok River, hancur diterjang air bah. Sebanyak 129 orang tewas, termasuk tujuh pelancong asing. Lebih dari 100 orang hilang dan diduga meninggal. Sedikitnya 400 bangunan hancur.

Nyawa melayang. Warung, rumah, penginapan, dan hotel hancur. Berakhir masa keemasan warga Bukit Lawang yang mengandalkan pendapatan dari pelancong. ”Saat itu saya merugi hingga Rp 162 juta,” kata Jimmy Harman (42), salah satu pemilik penginapan.

Kepala Pusat Informasi Kehutanan Tachrir Fathoni menjelaskan, banjir bandang adalah karakter khas alam hulu subdaerah aliran Sungai Bohorok yang memiliki kemiringan lahan lebih dari 60 persen. Daerah ini rawan longsor. Apalagi, beberapa hari sebelum banjir curah hujan meningkat hingga lima kali lipat, hingga 100 mm per hari. Banyaknya korban jiwa karena banyak bangunan berada di bantaran dan badan sungai.

Berdasar studi Balai Sabo dan Japan International Cooperation Agency (JICA) tahun 2003, yang terangkum dalam Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang Daerah Aliran Sungai Bahorok, jumlah batang kayu yang tertinggal di palung saat banjir mencapai 70.000 meter kubik. Endapan pada dasar sungai setelah banjir dari Bukit Lawang ke hulu mencapai 300.000 meter kubik. ”Ketinggian air waktu itu sampai seatap rumah, sekitar lima meter jika diukur dari tepi sungai,” ujar Sarja (58), warga.

Pemerintah menilai banjir bandang itu murni bencana. Namun, korban menyadari petaka itu akibat ulah manusia. Penebangan liar yang kerap terjadi di hutan TNGL dan hutan produksi terbatas diduga menjadi penyebab utamanya. Ini mengacu pada banyaknya gelondongan kayu yang ikut terbawa air bah.

Kayu itu pula yang menjadi penahan air hujan di hutan. Ketika volume air terus bertambah dan kayu tak kuat menahannya akan berubah menjadi air bah.

Menjaga lingkungan

Desa Bukit Lawang atau kawasan Wisata Bukit Lawang memiliki luas 785,49 hektar atau 3,65 persen dari DAS Bahorok, yang luasnya mencapai 21.493 hektar. Sesuai data Pemerintah Kabupaten Langkat, daerah ini adalah dataran banjir karena posisinya berada di lembah. Lokasi ini juga rawan longsor sebab 68 persen DAS Bahorok memiliki kemiringan 30 persen sampai 70 persen.

Peristiwa itu membuat warga Bukit Lawang makin mawas diri. Kini tak ada lagi yang berani menebang kayu di TNGL karena warga menerapkan hukuman berat. Kalau ada warga Bukit Lawang yang nekat mengambil kayu dari hutan, warga lain memaksanya untuk mengembalikan ke tengah hutan. Jika orang luar Bukit Lawang yang menebang pohon, ”Mereka tak akan bisa pulang,” kata Bambang KWW (39), aktivis lingkungan Desa Bukit Lawang.

Menurut Bambang, warga bertekad memusuhi siapa saja yang menebang pohon di hutan TNGL. Warga tak ingin petaka tahun 2003 terulang.

Kepala Subbagian Data, Monitoring, Evaluasi, dan Humas Balai Besar TNGL Rahmad Saleh mengatakan, warga Bukit Lawang sangat protektif terhadap hutan. Mereka selalu bereaksi ketika mendengar bunyi gergaji di tengah hutan.

Kondisi ini berbeda dengan beberapa daerah lain seperti di Sei Lepan dan Tangkahan, Langkat. Di kedua lokasi ini lebih banyak warga sekitar yang membabat hutan daripada pendatang. ”Pola proteksi terhadap hutan seperti yang dilakukan warga Bukit Lawang perlu dikembangkan,” ujarnya.

Langkah lainnya, warga kini kian berhati-hati dalam membangun rumah atau penginapan. Meski tetap membangun di tepi sungai, tetapi mereka mundurkan sekitar tiga meter dari bibir sungai. Namun, masih ada beberapa yang membangun persis di tepi sungai. Menurut Bambang, ia sudah memberi tahu hal itu berbahaya, tetapi ada juga warga yang nekat. Jumlah penginapan dan hotel di sepanjang Sungai Bahorok di Bukit Lawang kini sekitar 300 unit.

Warga pun meyakini bencana bukan ditentukan oleh faktor tunggal, seperti hutan gundul atau hujan lebat. Faktor lain bisa berupa minimnya penahan air sungai. Karena itu, warga beramai-ramai menanam pohon di tepi sungai.

Mereka juga sengaja memberi jarak berupa lahan kosong 3-5 meter antara sungai dan bangunan. Lahan itu ditanami berbagai tanaman keras seperti trembesi, waru, mahoni, sengon, dan angsana.

Sekitar 250 keluarga menanam pohon dengan tenaga dan biaya sendiri. Satu keluarga menanam 10-40 pohon. Kini pohon itu setinggi 2-3 meter.

”Pohon itu menjadi pelindung kami seandainya air bah datang lagi. Setidaknya kerusakan bangunan tidak separah dulu,” kata Jeje (36), pemilik Warung Sundana. Dia kehilangan warung dan penginapan saat air bah menghantam tahun 2003.

Pohon itu juga untuk memelihara keelokan Sungai Bahorok. Sungai yang membelah Desa Bukit Lawang itu dimanfaatkan warga untuk obyek wisata dan rekreasi. Bencana mengajarkan kearifan terhadap lingkungan.

(Mohammad Hilmi Faiq)


Editor :