Kamis, 17 April 2014

News / Regional

Geliat Gadis Panggilan di Kota Wali

Selasa, 21 Agustus 2012 | 09:16 WIB

Baca juga

CIREBON, KOMPAS.com — Malam semakin larut. Angin laut berembus kencang. Udara di "Kota Udang", Cirebon, Jawa Barat, terasa makin dingin. Malam itu sebagian masyarakat Cirebon sudah mulai melakukan perjalanan mudik ke berbagai kota di Jawa Tengah atau Jawa Barat. Cirebon, yang juga kerap disebut sebagai "Kota Wali", terasa sepi. 

Asap tebal mengepul dari sebuah becak yang parkir di depan hotel di jalan protokol kota itu. Mang Usi (41) mengisap dalam-dalam rokok kretek di atas becaknya. Keheningan malam itu pecah saat kami terlibat perbincangan singkat. Mereka yang biasa menginap di Hotel "A" pasti mengenal baik Mang Usi. Lelaki asal Indramayu itu adalah perantara jasa dalam urusan pramusyahwat.

Geliat bisnis prostitusi di Kota Wali ini berlangsung terselubung. Entah sejak kapan. Usi menuturkan, para tamu hotel biasa menggunakan jasanya untuk mencarikan "teman malam". Perempuan penghibur yang diantarnya ke hotel berusia antara 20-30 tahun. Mereka umumnya adalah karyawati di sejumlah pusat perbelanjaan yang ada di Kota Cirebon.

"Pesanan tamu-tamu hotel itu rata-rata bekerja jadi SPG (sales promotion girl) di beberapa mal di Cirebon. Mereka melayani tamu hotel hanya sebagai sambilan saja," ujarnya.

Biasanya tamu hotel yang membutuhkan kehangatan malam cukup menelepon atau meninggalkan pesan singkat kepada Usi. Selanjutnya, Usi akan menjemput para penghibur lelaki hidung belang itu dari tempat kos mereka. Menurut Usi, sebagian besar wanita penghibur itu nge-kos di daerah Tangkil. Mereka umumnya berasal dari luar Kota Cirebon, seperti Kuningan, Bandung, dan Indramayu.

Wanita-wanita muda tersebut mematok tarif Rp 300.000 untuk sekali kencan dengan waktu antara 1-2 jam. Dari hasil menjual jasanya tersebut, Usi mengaku mendapatkan uang Rp 50.000 dari setiap satu pelanggan.

"Hasilnya tidak menentu, tetapi rata-rata dapat Rp 50.000 dari setiap tamu, Rp 20.000 dari hasil antar jemput cewek, dan Rp 30.000 dari tamu hotel," tambahnya. Jika peruntungannya baik, dalam semalam ia bisa mendapat 2-3 pelanggan. Namun, jika sedang apes, kadang tidak ada order sama sekali. (Jumar Sudiyana/Radio Sonora)


Editor : Heru Margianto