Selasa, 2 September 2014

News / Regional

Ramadhan 2012

Kaligrafi, Seni Berdakwah dengan Pena

Jumat, 10 Agustus 2012 | 15:32 WIB

Terkait

Oleh Herlambang Jaluardi

Asmadi (26), pemuda asal Muaro Bungo, Jambi, baru saja menyelesaikan shalat ashar di kamar berukuran sekitar 16 meter persegi di Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka, Sukabumi, Jawa Barat. Sore itu langit sedang cerah. Angin berembus sepoi-sepoi dan sejuk. Kondisi yang sangat nyaman untuk melukis sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Dia mengemasi alat-alat lukisnya, kuas dan sekotak cat air dalam tabung beraneka warna. Asmadi tak hendak mengabaikan hawa sejuk dengan hanya tidur-tiduran di kamar. Dia bertekad merampungkan lukisan kaligrafi pada kanvas sekitar 1,5 meter x 1 meter. Lukisan belum berjudul itu sudah bergambar pemandangan: langit biru, bukit kecoklatan, dan tetumbuhan hijau. Dia berniat menambahkan lafad (tulisan) ”Allah” di sudut lukisannya.

Di tepi tebing, Asmadi memasang peyangga kanvas. Dengan pemandangan sawah dan sinar matahari yang mulai condong ke barat, dia mulai asyik melukis. Hampir setiap sore, Asmadi melukis di tempat itu. Tak jarang, ia sampai turun ke pinggir sawah untuk melatih kemampuan menulis kaligrafi dan melukis.

”Suasananya tenang, enak sekali untuk melukis,” ujar Asmadi yang rela tidak menamatkan pendidikan formalnya di sebuah madrasah aliyah di Muaro Bungo. Bersama 83 santri lain, Asmadi belajar kaligrafi sejak Agustus 2011 di pesantren yang terletak di Jalan Kramat, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, itu.

Tak jauh dari tempat Asmadi melukis, beberapa santri lain berlatih menulis kaligrafi di bawah naungan saung. Di dalam saung itu, suasananya tak kalah nyaman. Satu-satunya sisi yang berdinding penuh dengan seni grafis kaligrafi aneka warna. Meriah, tetapi tidak meletihkan mata. Para santri itulah yang menghias dinding tersebut.

Seni kaligrafi lewat media lukisan di atas kanvas adalah salah satu yang diajarkan di pesantren yang didirikan oleh seniman kaligrafi Didin Sirojuddin pada 1998. Melalui pendidikan selama satu tahun, santri diajar juga menggoreskan kaligrafi di media kertas, kaca, kayu, dan logam.

Membagi ilmu

”Seni kaligrafi tidak bisa dilepaskan dari berdakwah. Kami di sini berdakwah melalui goresan pena,” kata Ohan Jauharudin, Kepala Bidang Administrasi dan Kepengurusan Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka. Oleh karena itu, para santri tidak hanya diajarkan meniru huruf Al Quran dan menghiasnya, tetapi juga bagaimana membagi ilmu yang mereka peroleh di pesantren kepada masyarakat luas.

”Salah satu materi pelajarannya adalah pengembangan sanggar. Kami memang mengharapkan para santri yang selesai mengikuti diklat bisa mengembangkan sanggar di daerahnya masing-masing,” lanjut Ohan.

Santri yang belajar di pesantren itu memang berasal dari sejumlah provinsi di Indonesia, bahkan pernah menerima siswi dari Malaysia dan Jepang.

Untuk mengasah kemampuan berbagi ilmu itu, banyak santri yang sudah selesai menjalani pendidikan selama satu tahun memilih bertahan di pesantren itu. Mereka memang ”kehilangan” hak untuk menempati asrama sehingga harus indekos. Namun, mereka bisa membantu jadi pengajar bagi santri angkatan berikutnya.

”Separuh dari setiap angkatan pasti ada yang enggak mau pulang. Soalnya, menurut saya, belajar di sini enak, hawanya sejuk. Kami (para santri) jadi lebih berkonsentrasi,” kata Herman Pelani (22), santri asal Kabupaten Siak, Riau.

Herman sudah menyelesaikan pendidikan pada dua tahun lalu. Namun, dia merasa, kemampuannya masih belum bagus. Sembari mendalami kaligrafi di pesantren, dia kuliah di Jurusan Pendidikan Agama Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam, Sukabumi.

Salah seorang santri termuda, Ihsan Nurhakim (17), juga memilih tetap tinggal di sekitar pesantren setelah pendidikannya selesai. Ihsan datang ke pesantren itu setelah menyelesaikan pendidikan di madrasah tsanawiyah di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Seusai menjalani pendidikan selama satu tahun di pesantren, Ihsan melanjutkan pendidikan formalnya di SMA yang tak jauh dari pesantren itu.

Ihsan, Herman, dan Asmadi sama-sama mengaku tertarik belajar di pesantren ini setelah melihat karya alumni yang kembali ke daerah mereka. Untuk bisa bergabung di Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka ini, ada yang dibiayai sendiri oleh keluarga, ada juga yang dibantu oleh pemerintah daerah asal.

Uang pangkal bagi peserta didik Program Takhassus selama satu tahun pada tahun ajaran 2011/2012 lalu Rp 2,5 juta, ditambah uang SPP per bulan Rp 525.000. Biaya itu cukup menyulitkan Asmadi. Uang tabungannya dari bekerja sebagai pemotong karet setelah ia berhenti sekolah tak juga cukup. Melalui bantuan seorang lulusan pesantren asal Muaro Bungo, Asmadi menerima beasiswa dari Pemkab Muaro Bungo.

”Syaratnya, saya harus membela daerah, baik Kabupaten Muaro Bungo maupun Provinsi Jambi, dalam setiap ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Saya tidak diminta untuk mengembalikan bantuan itu ataupun harus kembali ke daerah. Habis dari sini (Sukabumi), saya berencana mendalami seni lukis di Kampung Lukisan Jelekong (Baleendah, Kabupaten Bandung). Setelah mampu, saya akan pulang ke Muaro Bungo dan membuka sanggar lukisan kaligrafi,” ujarnya.

Sandaran hidup

Lulusan pesantren itu tak hanya menjadi pengajar atau pengelola sanggar. Mereka juga bisa menjadi seniman kaligrafi ”profesional”. Isep Misbah, salah seorang pengajar di pesantren itu, pernah belajar kaligrafi di Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) saat belum menjadi pesantren pada 1994-1995. Tiga tahun kemudian, ia merintis CV Noqtah Art yang mengerjakan dekorasi islami.

”Sejak berdiri hingga sekarang, kami sudah mendekorasi sekitar 120 masjid di Indonesia dan Malaysia. Beberapa kali penyelenggaraan MTQ nasional juga kami yang kerjakan. Mayoritas pekerjaan dilakukan oleh alumni Pesantren Lemka,” kata Isep.

Menurut dia, selain sebagai media berdakwah, kaligrafi bisa menjadi sandaran hidup bagi senimannya. Peluang untuk mendekorasi masjid di Indonesia masih terbuka lebar. Berdasarkan pengalamannya, banyak pengelola masjid di luar Pulau Jawa yang membutuhkan tenaga seniman kaligrafi profesional untuk mendekorasi masjid.

”Kemampuan seniman kaligrafi Indonesia terbilang sudah diakui secara internasional. Wawasan gaya kaligrafi seniman Indonesia lebih maju dibandingkan dengan seniman di Malaysia dan Brunei, misalnya. Seniman dari Indonesia bukan hanya mendesain kaligrafi. Kami yang mendesain, kami juga yang mengecat dinding masjid,” ujar Isep.

 


Editor : Hindra
Sumber: