Selasa, 23 September 2014

News / Regional

Tujuh Pengungsi Rohingya Terdampar di Ciamis

Selasa, 31 Juli 2012 | 18:03 WIB

Terkait

CIAMIS, KOMPAS.com — Di antara puluhan imigran gelap yang ditangkap polisi di Pantai Palatar Agung, Kecamatan Kalipucang, Ciamis, akhir pekan lalu, terselip tujuh imigran asal etnis muslim Rohingya, Myanmar.

Mereka adalah Ayub (35), H Abdul Malik (41), Mohammad bin Amanullah (28), Muhammad Inus bin Abdul (25), Rusyid Dulah bin Ahmah (23), Isup (30), dan Mohammad Zubair (30). Mereka bergabung bersama imigran gelap lainnya asal Irak, Afganistan, dan Iran di tempat penampungan sementara, Hotel La Risa Ciamis.

"Tujuan kami adalah Australia. Kalau tetap tinggal di Myanmar kami akan mati, ditempa oleh askar (maksudnya ditembak tentara)," ujar Ayub kepada Tribun, di Hotel La Risa Ciamis, Senin (30/7/2012).

Ayub dan Inus cukup mahir berbahasa Melayu karena pernah tinggal di Malaysia. Mereka memilih mengungsi ke Malaysia ketika terjadi bentrokan etnis Rohingya dengan penduduk Myanmar beragama Buddha sebelas tahun lalu.

Setelah situasi mulai reda, kata Ayub, mereka mencoba kembali pulang ke Myanmar. Akan tetapi, lima bulan lalu terjadi lagi tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis muslim Rohingya.

Mereka tidak hanya berhadapan dengan etnis beragama Buddha, tetapi aparat junta militer Myanmar sengaja melakukan pembersihan etnis Rohingya karena mereka dianggap bukan warga negara Myanmar.

"Rumah dibakar, kawan-kawan kami ditempa dadanya oleh askar (maksudnya ditembak dadanya oleh tentara). Anak-anak juga ditempa. Anak puan (perempuan) diiris telinganya diambil emasnya," kata Ayub dengan mata yang berkaca-kaca.

Bahkan Abdul Malik, tokoh di antara ke-7 muslim Rohingya yang terdampar di Ciamis tersebut, berurai air mata sambil bertutur dalam bahasa Rohingya yang tidak dimengerti.

Hingga kemarin, dari 78 orang imigran gelap yang ditangkap dan ditampung sementara, tinggal 57 orang yang bertahan di hotel. Sebanyak 21 orang memilih kabur dengan cara meloncat tembok pagar hotel atau lewat atap genteng.

Perwakilan Kantor Imigrasi kelas II Tasikmalaya, Teguh Setiadi, mengatakan, bagaimana nasib selanjutnya puluhan imigran gelap ini masih menunggu keputusan Direktorat Imigrasi. "Sampai hari ini belum ada keputusan. Sejumlah rumah detensi imigrasi (rudim) saat ini dalam kondisi penuh," ujar Teguh.

 


Editor : Farid Assifa
Sumber: