Minggu, 13 Juli 2014

News / Regional

Kisah Frengki, Tukang Ojek Bertubuh Mini...

Jumat, 27 Juli 2012 | 09:03 WIB

KEFAMENANU, KOMPAS.com - Frengki Robianus Nailiu memiliki tubuh yang mungkin dinilai orang tidak sempurna. Bayangkan saja, warga Kelurahan Bitefa, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur itu hanya memiliki tinggi badan 130 cm di usianya yang sudah menginjak 24 tahun.

Namun, siapa yang menduga? Semangatnya untuk mandiri layak diacungi jempol. Frengki pun memilih profesi sebagai tukang ojek yang tentunya berisiko tinggi. Anak pertama dari tiga bersaudara, pasangan Yakobus Nailiu dan Alm. Yasinta Tael ini sudah menggeluti profesi tersebut sejak tahun 2011 lalu, meskipun awalnya ditentang keras oleh keluarganya karena kondisi badannya.

Kemauannya yang keras membuat Frengki akhirnya menjalani pekerjaan itu sampai sekarang. "Pertama kali saya belajar motor, sejak dua tahun lalu karena termotivasi dengan teman-teman yang ojek, sebab pemasukan mereka setiap hari menurut saya lumayan tinggi sehingga saya pun berkeinginan menjadi seperti mereka. Selain itu saya tidak ingin hidup hanya bergantung pada keluarga dan orang lain tetapi ingin mandiri," kata Frengki, saat ditemui di tempat mangkalnya, Pasar Lama Kefamenanu, Kamis (26/7/2012) kemarin.

Menurut Frengki, pertama kali mengojek, para penumpang sempat ragu dan takut dibonceng olehnya. Tetapi, karena kemampuannya meyakinkan calon penunmpang sangat kuat, akhirnya banyak penumpang yang mau mengunakan jasanya. Bahkan kini, Frengki telah memiliki sejumlah langganan tetap.

Frengki pun mengaku tidak malu dengan kondisi tubuh. "Saya menganggap diri biasa saja seperti yang lain, hanya mungkin kekurangan saya ini agak sedikit mencolok, akan tetapi saya tetap optimis dalam hidup ini," kata Frengki yang hanya jebolan kelas II SMP.

Pemasukan bersih dari ojeknya bisa mencapai Rp 60.000 per hari dikala ramai penumpang. Namun, kalau toh terbilang sepi, ia tetap bisa membawa pulang uang Rp 30.000.  Semua pemasukan itu dia setor kepada pemilik motor yang tidak lain adalah adik iparnya. Pemasukan tersebut lantas dibagi 30 persen untuknya, sedangkan sisanya untuk iparnya dan untuk membayar cicilan motor.

Perjalanan terjauh yang pernah ditempuh oleh Frengki adalah mengantar penumpang dari Kefamenanu ke Atambua, Kabupaten Belu sejauh 87 kilometer dengan bayaran Rp 150.000 pulang-pergi.

Salah seorang penumpang, Feri Naimena mengaku tidak takut dibonceng oleh Frengki. "Meskipun kelihatan seperti anak kecil, tetapi pada saat membawa motor, Frengki sangat lincah dan berpengalaman seperti ojek lainnya. Jadi, bagi saya tidak ada masalah bila dibonceng olehnya," jelas Naimena.

 


Penulis: Kontributor Timor Barat, Sigiranus Marutho Bere
Editor : Glori K. Wadrianto