Minggu, 21 Desember 2014

News / Waroengan

Cicipi Kudapan Serba Durian

Sabtu, 23 Juni 2012 | 14:44 WIB

MENYANTAP durian atau duren segar memang menyenangkan. Daging buahnya yang legit dengan aromanya yang tajam membuat lidah ini tak berhenti bergoyang.Tapi, durian bukan melulu disantap segar, melainkan juga diolah menjadi aneka macam makanan atau penambah cita rasa makanan. Seperti aneka kudapan yang disediakan di Kedai Ulliko, di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sebut saja, talam duren, gulung duren, nastar duren, bolu kukus duren, ketan duren, muffin duren, sus duren, dan serabi duren, disediakan di Kedai Ulliko. Hanya dengan merogoh tak lebih dari Rp 10.000 per potong, Anda sudah bisa menikmati makanan yang diolah dari durian itu.

Menurut pemilik Kedai Ulliko, Yap Johannes, nama kedainya itu diambil dari nama anaknya, Ryuko. "Karena terlalu Jepang jadi saya ubah, malah ada yang nyangka berbau Jawa. Mungkin nama ini juga yang menjadi berkah tersendiri buat kedai saya" kata Yap Johanes kepada Warta Kota, di kedainya, belum lama ini.

Kedai Ulliko terletak di Jalan Boulevard Raya QA 3 No 12, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kedai itu terlihat nyempil di antara bangunan. Tak begitu luas ruangannya, hanya 5x8 meter. Satu etalase yang memajang aneka kudapan dari durian diletakkan di pojokan ruangan. Di salah satu dinding ruangan itu memuat aneka tulisan tentang Kedai Ulliko dari berbagai media massa. Plus satu poster berukuran 1x2 meter bertuliskan Ulliko.

Meski kedai itu kecil, tapi Ulliko yang berdiri sejak tahun 1999 itu sudah termasyur dengan kelezatan aneka makanannya yang diolah dari durian. Bahkan, pengamat dan penikmat kuliner, Bondan Winarno, pernah memuji kelezatan makanan di Ulliko.

Warta Kota penasaran dengan kudapan Ulliko dan ingin mencicipinya. Mata pun melirik aneka makanan ringan yang dijajakan di etalase kaca. Saking banyaknya kudapan yang disajikan dan semua pilihan begitu menggoda, saya jadi bingung memilihnya. Lalu, saya mendapat rekomendasi untuk memilih talam duren, gulung duren, dan pancake duren.

Talam duren yang bernuansa kuning tua kehijauan itu dihias dengan potongan daun berbentuk V. Saat lidah menyentuh permukaan talam terasa kasar. Tapi, setelah menggigit makanan itu, teksturnya lembut dan bagian dalamnya meleleh di lidah. Mata seakan merem-melek menikmatinya.

Lalu, saya menyantap gulung duren. Sepintas, bentuknya seperti kue dadar gulung. Tapi, gulung duren ini tidak hijau warnanya, melainkan putih tanpa pewarna. Rasanya pun benar-benar beda karena isinya bukan kelapa berbalut gula merah, melainkan fla durian.

Gulung duren yang panjangnya delapan sentimeter itu tanpa basa-basi langsung masuk ke mulut saya. Kue ini benar-benar lembut. Ditambah lelehan fla durian-nya yang menjamah lidah, saya jadi kehilangan kata-kata untuk menggambarkan kenikmatannya. Lezat banget deh.

Kue terakhir yang saya pilih, pancake duren yang bentuknya bulat gepeng. Pancake itu lalu dibentuk menyerupai teropong yang dalamnya diisi fla durian. Rasanya sama dengan gulung duren. Betul-betul nikmat.

Satu pengunjung Ulliko mengakui kelezatan makanan di kedai itu. "Kue di sini rasa duriannya terasa banget, mantap deh. Saya enggak ngerasa rugi belinya. Kalau makanan favorit, gulung durennya" ujar Ario Wibowo (20)

Tanpa rasa buatan

Menurut Yap Johannes, Ulliko dalam mengolah makanannya memakai rasa durian asli. "Kita enggak pernah pakai esens untuk bahan isian durennya, kita benar-benar pakai durian asli yang terbaik," ucap Yap Johannes.

Dia juga menjamin makanan olahan durian di kedainya bebas bahan pengawet. "Karena kita bermain di pasar kue basah maka harus selalu fresh. Kalau dimasukkan kulkas bisa tahan 2 -3 hari, tapi kalau dibiarkan dalam suhu ruangan, paling rata-rata hanya tahan satu hari," kata bapak satu anak ini.

Ulliko juga memberi harga yang tak menguras kantong. Misalnya, talam duren dibandrol Rp 6.000, pancake duren Rp 9.000, dan gulung duren Rp 7.000. Tapi, untuk makanan kecil satu paket toples, seperti nastar duren, Ulliko membandrolnya dengan harga Rp 70.000.

Kedai kue basah yang beroperasi tiap hari mulai pukul 08.00 -21.00 membutuhkan pasokan durian 150 -200 kilogram per bulannya. "Makanya kita sekali beli dari pengepul biasanya bisa sampai satu ton (durian)," kata Johannes yang bisa meraup omzet Rp 60 juta-70 juta per bulan.

Saat ini, Ulliko sudah memiliki tiga cabang, yakni di The Food Hall Grand Indonesia Lower Ground SS-5, Ruko Golden Trully lantai 1 (foodcourt), dan Ruko VIP Jalan Bang Barung Raya Blok AK Pajajaran Bogor. Ke depannya, Johanes akan membuka satu cabang lagi di Food Hall Apartemen Bellezza, Permata Hijau. "Tahun depan kita juga sedang mempersiapkan produksi selai duren. Lalu, Juli nanti kita akan buka Caffe Ulliko di Semarang. Di sana kita punya menu juice duren kopi yang rasanya lain dari yang lain" ujarnya.

Selain itu, Johanes sedang menggodok rancangan sistem franchise untuk kedainya. "Namun, saya masih persiapkan sistemnya biar mantep dulu. Karena mengelola franchise enggak semudah itu, tujuannya untuk jaga mutu makanannya," kata Johanes. (m11)

 


Editor : Pingkan