Rabu, 22 Oktober 2014

News / Regional

Batik Motif Piala Eropa Tak Laku, Perajin Merugi

Jumat, 22 Juni 2012 | 13:35 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Batik motif Piala Eropa 2012 sepi peminat. Perajin batik tersebut di Kota Malang, Jawa Timur, mengaku merugi hingga puluhan juta rupiah. Perajin batik motif Piala Eropa tersebut adalah Batik Celaket Kota Malang. Motif batik diproduksi sejak dimulainya Piala Eropa 2012 lalu.

Motif batik yang diproduksi berupa gambar dan bendera 14 negara peserta Piala Eropa. Batik diproses dengan metode batik tulis dan batik cap. Menurut perajin Batik Celaket Malang, Hanan Jalil, yang ditemui Kompas.com, pada Jumat (22/6/2012) siang. Batik tersebut diproduksi memang khusus untuk menyambut Piala Eropa. Batik Celaket telah memproduki sebanyak 300 lembar kain batik.

"Karena tidak laku, jelas kami merugi," ujar Hanan ditemui di rumahnya.

Kain batik yang siap dijual berukuran panjang 200 sentimeter dan lebar 115 sentimeter. Semuanya dipasarkan di wilayah Malang, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Tetapi, hingga kini hanya laku beberapa potong.

"Padahal, temanya Piala Eropa. Ide saya, karena saat ini perhatian masyarakat Indonesia tertuju terhadap olahraga sepak bola, yakni Piala Eropa. Kini, ada 250-an lembar kain batik yang ditarik kembali," akunya.

Lebih lanjut, Hanan memprediksi bahwa kain batik tak laku di pasaran karena motif yang ditawarkan hanya berupa bendera negara. Sementara pencinta sepak bola lebih tertarik membeli kaus dan bendera. Bukan baju batik. "Saat ini kami akan mendesain motif batik sesuai selera pasar saja. Lebih aman dan laku di pasaran," ujarnya.

Adapun motif populer yang pernah diproduksi Batik Celaket, aku Hanan, adalah batik bergambar KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Irfan Bachdim, pemain timnas, dan batik bermotif ulat bulu.

"Saat itu lagi gencar motif itu. Adapun harga batik per lembarnya untuk batik cap dijual seharga Rp 150.000, batik tulis Rp 300.000 per lembar," katanya. Adapun penjualan batik motif Irfan Bachdim, tambah Hanan, cukup meledak hingga terjual 10.000 lembar.

"Yang jelas, batik motif Piala Eropa tak laku di pasaran. Saat ini kami sudah mau garap motif lain karena kami merugi cukup besar. Akhirnya, barang yang ada diberikan kepada kolega saya," katanya.


Penulis: Kontributor Malang, Yatimul Ainun
Editor : Pepih Nugraha