Sabtu, 5 September 2015

Regional

Soal Tortor, Pemerintah Tak Serius Urus Kebudayaan

Kamis, 21 Juni 2012 | 18:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com-  Munculnya klaim budaya Mandailing oleh Malaysia membuktikan bahwa pemerintah negeri ini tak miliki desain yang jelas terhadap strategi kebudayaan nasional. Pemerintah cenderung reaktif terhadap klaim budaya oleh Negara lain.

"Jika ada sebuah negara mengklaim sebuah produk kebudayaan, baik kebudayaan daerah maupun kebudayaan nasional, barulah pemerintah bereaksi dengan mengeluarkan kebijakan yang seolah-olah berpihak pada upaya mengembangkan kebudayaan daerah atau nasional," ujar Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Raihan Iskandar di Jakarta, Kamis (21/6/2012).

Menurut Raihan, kasus-kasus sebelumnya yang pernah muncul seperti klaim Malaysia atas reog ponorogo dan angklung, serta lagu rasa sayange adalah wujud lain masih reaktifnya pemerintah dalam urusan mengembangkan dan melindungi aset budaya bangsa.

"Kalaupun pemerintah telah melakukan pencatatan yang berisi warisan budaya nasional, harus ditindaklanjuti dengan pengembangan, perlindungan, dan pemasyarakatannya ke tengah-tengah masyarakat, dan bahkan menyebarluaskannya ke masyarakat internasional," ujar anggota komisi X DPR RI ini.

Karena itu, Raihan mendesak pemerintah untuk membuat strategi kebudayaan nasional yang ditopang secara kokoh oleh kebudayaan daerah, dengan membuat undang-undang yang mengatur tentang kebudayaan nasional.

"Disayangkan sekali belum ada peraturan berupa undang-undang yang menjadi dasar kebijakan pengembangan kebudayaan nasional. Padahal, kebudayaan nasional yang ditopang oleh kebudayaan daerah menjadi salah satu identitas nasional.

"Pemerintah perlu melakukan diplomasi budaya ke negara-negara lain yang secara kultur dan sejarah memiliki kesamaan. Diplomasi budaya ini penting untuk menyelesaikan problem negara pasca-kolonial yang membuat sekat-sekat geografis negara nasional, sehingga memunculkan klaim-klaim historis dan budaya," tutup Raihan.

 

Penulis: Imam Prihadiyoko
Editor : Marcus Suprihadi