Selasa, 2 September 2014

News / Regional

Produksi Batu Bata Merah Melimpah, Harga Anjlok

Rabu, 20 Juni 2012 | 17:54 WIB

MOJOKERTO, KOMPAS.com - Sebulan terakhir ini harga batu bata merah anjlok menjadi Rp 330 per biji, dari sebelumnya seharga Rp 370.

Anjloknya harga bata merah tersebut, dipicu melimpahnya produksi di tingkat perajin. Pada saat bersamaan, permintaan untuk proyek pembangunan perumahan, sepi.

"Semua perajin bata merah sekarang ini sangat merasakan sepinya permintaan, dan anjloknya harga," kata Zainul (43), perajin bata merah yang ditemui Kompas, Rabu (20/6/2012), di Sentra Perajin Bata Merah, di Kutorejo, Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Zainul mengatakan, anjloknya harga bata merah yang terjadi sebulan terakhir ini, tidak lepas dari sepinya permintaan dan melimpahnya produksi dan stok bata merah ditingkat perajin. Selain itu juga akibat ulah makelar bata merah yang membuat harga semaunya.

"Makelar yang menentukan harga di pasaran, karena perajin butuh uang untuk modal kerja lagi dan memenuhi kebutuhan hidup. Mau tidak mau perajin melepasnya berapa pun harganya, asal tidak sampai rugi," katanya.   

Ia mengatakan, setiap kali musim kemarau, produksi maupun stok bata merah ditingkat perajin memang melimpah. Hal itu terjadi hampir setiap tahun.

Penyebabnya, uaca yang panas sangat menguntungkan untuk proses pengeringan bata merah, sehingga produksi bata merah pun melimpah .

Namun perajin kerap kali tidak berdaya menghadapi makelar dalam soal harga, karena keberadaan makelar berperan dalam penjualan bata merah produksi para perajin.

"Karena permintaan sepi, perajin seperti saya ini baru bisa jual bata merah sebulan lebih setelah proses pembakaran selesai. Padahal, kalau sedang ramai dua-tiga hari sudah bisa terjual, karena sudah ada makelar yang datang langsung ke tempat saya,"ujar Zainul.

Zainul mengatakan, perajin kecil seperti dirinya yang baru bisa membakar sebanyak 40.000 biji bata merah dalam waktu tiga bulan, mendapatkan keuntungan yang tidak besar. Untuk proses pembakaran, pihaknya membutuhkan batu bara sebanyak tiga ton seharga Rp 3,6 juta.

"Belum lagi kalau bahan baku tanah liatnya harus beli, pasti keuntungannya tipis. Untungnya saya tidak beli tanah, karena saya ambil dari areal sawah sendiri," ujar Zainul.  

 

Soleh (49), perajin lain yang ditemui terpisah, mengatakan, keuntungan perajin bata merah memang tidak besar, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.  "Keuntungannya memang tidak besar, tapi cukup untuk hidup keluarga dan biaya sekolah anak," katanya.

Ia mengatakan, dalam sebulan pihaknya bisa membakar 25.000-30.000 biji bata merah dengan total bahan baku tanah liat sebanyak 30 ton. Harga satu truk bahan baku tanah (2,5 ton) Rp 250.000. Adapun bahan bakar batu bara menghabiskan  Rp 2,5 juta.

"Biasanya batu bata sebanyak yang saya produksi itu sudah terjual dalam waktu satu-dua minggu setelah proses pembakaran. Namun sekarang baru bisa terjual lebih dari satu bulan, karena sedang sepi permintaan," ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Penulis: Abdul Lathif
Editor : Agus Mulyadi