Jumat, 22 Agustus 2014

News / Regional

Harga Kedelai Naik Pengusaha Menjerit

Sabtu, 16 Juni 2012 | 00:00 WIB

Terkait

MEDAN, KOMPAS.com - Para pengusaha tempe dan tahu menjerit lantaran harga kedelai terus melonjak. Mereka mencoba menyiasatinya dengan mengurangi ukuran produk.

Harga kedelai impor saat ini masih mencapai Rp 6.700 hingga Rp 6.900 per kilogram. Harga ini bertahan selama dua bulan terakhir. Padahal, pada awal tahun ini, harga kedelai hanya Rp 5.300 per kilogram.

Budi Sudarno (39), pengusaha tempe di Kecamatan Sunggal, mencoba menyiasati kenaikan harga bahan baku dengan mengurangi ukuran tempe, untuk menekan biaya operasional. Tempe yang semula berbobot 3,5 ons menjadi 3,2 ons dengan harga tetap, yakni Rp 2.000 per bungkus. Risikonya, marjin keuntungan berkurang sampai 10 persen.

Akan tetapi, cara ini tidak efektif, lantaran banyak pelanggan mengeluh dan akhirnya batal membeli tempe.

Dia sekarang sedang berupaya tidak mengurangi ukuran tempe. Namun, Budi menempuh cara lain, yakni memperluas pasar dan menambah produksi dari 500 kilogram per hari menjadi dua kali lipat.

"Jadi, biarpun keuntungan per bungkus sedikit, tetapi kalau produksinya banyak kan keuntungan bisa tetap banyak," kata Budi saat ditemui di pab riknya, Jumat (15/6/2012).

Pengusaha tahu di Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, Suwardi (50), memilih cara memperkecil ukuran tahu. Jika sebelumnya butuh 2 kg kedelai untuk membuat sekotak tahu, kini dia kurangi menjadi 1,8 kg sehingga ukuran tahu lebih tipis.

Satu kotak tahu yang berisi 64 tahu tetap dia jual Rp 16.000. Bila dikurangi biaya kedelai, Suwardi hanya memperoleh keuntungan kotor Rp 4.300 per kotak. Dikurangi biaya pegawai dan bahan bakar, Suwardi hanya memperoleh keuntungan Rp 1.100 per kotak.

"Saya malah sering merugi, jika ada tahu yang dikembalikan kerena tidak laku. Intinya, kenaikan harga kedelai membuat kami terjepit," ujarnya.

Menurut distributor kedelai, H Maerodin (54), kenaikan kedelai impor lantaran produksi kedelai di negara asal yakni Amerika Serikat dan Thailand, sedang menurun. Pada saat bersamaan, jumlah produksi kedelai lokal tidak menjanjikan.

Saat musim panen, kedelai lokal hanya mempu memasok kebutuhan peng usaha tahu dan tempe selama sebulan. Setelah itu, semua pengusaha bergantung pada kedelai impor.

Pada saat harga kedelai melonjak seperti sekarang ini, lanjut Maerodin, banyak pengusaha yang kelimpungan. Sudah ada enam pengusaha yang tidak lagi mengambil kedelai. Mereka bangkrut.

Maerodin memiliki 63 pelanggan. Awal tahun lalu, omzetnya mencapai 40 ton per hari. Namun, sejak dua bulan lalu, omzetnya terus menurun dan kini tinggal 6 ton sampai 10 ton per hari.

Para pengusaha tempe seperti Budi dan Suwardi meminta pemerintah untuk menjamin pasokan kedelai, agar harganya stabil dan pengusaha tetap bisa maju.

 

 

 

 

 


Penulis: Mohammad Hilmi Faiq
Editor : Agus Mulyadi