Selasa, 16 September 2014

News / Regional

Saat Kerbau Meninggalkan Pantai

Senin, 11 Juni 2012 | 12:41 WIB

Terkait

Oleh Agung Setyahadi dan Ahmad Arif

KOMPAS.com - Sesaat seusai gempa 9,2 skala Richter mengguncang Simeulue, Aceh, 26 Desember 2004, semenit sebelum pukul 08.00, ribuan kerbau yang biasa berendam di muara sungai sontak berlarian. Kerbau-kerbau itu berlomba dengan penduduk Simeulue mengungsi ke perbukitan sebelum tsunami menerjang.

Di pantai barat Banda Aceh, Muhtar (57) juga menyaksikan burung-burung terbang menjauhi pantai sekitar 15 menit sebelum tsunami menghantam Kampung Monsinget, Desa Kaju, Batussalam, Aceh Besar.

Muhtar merasakan keanehan, tetapi rasa ingin tahunya membawa lelaki kekar itu mendekati pantai, sekitar satu kilometer dari rumahnya. Baru setengah jalan, Muhtar bergidik karena melihat gelombang tsunami yang bergulung-gulung menuju arahnya.

Di tepi Pantai Patanangala, Sri Lanka, gajah-gajah melengking dan berlari ke bukit sebelum datangnya tsunami. Burung-burung flamingo di cagar alam Point Calimere, India, juga meninggalkan sarangnya di tepi pantai. Burung-burung berkaki jenjang itu terbang ke tempat lebih tinggi. Di sepanjang pesisir Cuddalore, India, kantor berita Indo-Asian News melaporkan tak ditemukan kerbau, kambing, ataupun anjing yang terluka akibat tsunami.

Ravi Corea, Presiden Sri Lanka Wildlife Conservation Society, kepada National Geographic News mengatakan, seorang temannya di Sri Lanka selatan menyaksikan rombongan kelelawar terbang sesaat sebelum tsunami menghantam pantai. Di Dickwella, salah satu kota di Sri Lanka selatan, anjing-anjing peliharaan enggan diajak ke luar rumah. Satwa-satwa di kebun binatang pun meringkuk di kandang. Pawang tak mampu memaksa keluar.

Perilaku aneh satwa itu tak terjelaskan. Hingga satu jam kemudian tsunami menghantam Pantai Patanangala di dalam Taman Nasional Yala. Satwa- satwa liar di kawasan konservasi itu lari ke daerah lebih tinggi saat gelombang raksasa menyeberangi Samudra Hindia dengan kecepatan pesawat jet. Tsunami itu menyapu sekitar 60 wisatawan di Pantai Patanangala.

Insting binatang

Di Simeulue, insting yang dimiliki kerbau menyelamatkan binatang itu dari terjangan tsunami. ”Kerbau-kerbau itu menyelamatkan diri sebelum tsunami datang. Jarang ada kerbau mati karena tsunami. Dari 10 kerbau saya, hanya satu hilang,” ujar Safridin (40), warga Alafan, Simeulue.

Saat kerbau-kerbau berlarian, Safridin masih menjala di pantai. Ia baru mulai berlari meninggalkan pantai setelah melihat laut surut. Ia berlari ke rumah menjemput istri dan anak-anaknya untuk mengungsi ke atas bukit di belakang kampung.

Masyarakat Simeulue memiliki pengetahuan tentang smong, yaitu ombak laut yang akan menerjang daratan setelah gempa besar. Sebelum datang ombak besar itu, biasanya dicirikan surutnya air laut. ”Kami sering mendapat cerita smong itu dari orang-orang tua kami. Mereka mengalami smong tahun tujuh (1907),” kata Safridin. Pengetahuan ini yang menyelamatkan warga Simeulue saat gempa dan tsunami tahun 2004.

Jika masyarakat Simeulue mendapatkan pengetahuan itu dari cerita lisan yang diwariskan, dari mana kerbau dan binatang mengetahui datangnya tsunami?

Pengetahuan satwa menjelang tsunami atau gempa bumi lama menjadi misteri. Dalam artikel Did Animals Sense Tsunami Was Coming? (2005), Alan Robinowits, Direktur Ilmu Pengetahuan dan Penyelidikan di Bronx Zoo, New York, menilai satwa merasakan ancaman bahaya dengan mendeteksi keanehan atau perubahan mendadak di sekitarnya.

”Gempa bumi menyebabkan perubahan getaran di permukaan tanah dan air. Badai menyebabkan perubahan elektromagnetik di atmosfer,” ujar Robinowits.

Beberapa binatang, lanjutnya, memiliki pendengaran dan penciuman sangat peka yang bisa memberi tahu ada yang menuju ke arah mereka sebelum manusia tahu. Manusia dahulu kala juga memiliki indera ”keenam” seperti itu, tetapi perlahan hilang karena tak digunakan lagi.

Perilaku gajah menjelang tsunami bisa sedikit terjawab dari penelitian Joyce Poole, Direktur Savanna Elephant Vocalization Project, yang berkantor di Norwegia. Poole pernah bekerja meneliti gajah-gajah Afrika selama 25 tahun di Kenya. Ia tak terkejut dengan laporan mengenai gajah di Sri Lanka yang lari ke tempat tinggi jelang tsunami.

”Saya pernah bersama gajah saat terjadi dua gempa kecil. Dalam dua kejadian itu, gajah- gajah lari beberapa detik sebelum saya merasa goncangan,” ujarnya.

United States Geological Survey (USGS) pernah meneliti perilaku aneh satwa ini tahun 1970. Namun, penelitian itu tak bisa menjelaskan secara pasti penyebab perilaku aneh itu. Sejak itu, USGS tak melanjutkan penelitian karena perilaku satwa sangat sulit diterjemahkan dan tak bisa menjadi patokan mitigasi.

Jika insting binatang mendeteksi gempa dan tsunami masih sulit terjelaskan, tak demikian dengan kemampuan binatang mendeteksi letusan gunung. ”Sebelum gunung meletus, ada tekanan fluida yang mendorong sumbat gunung,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono.

Batuan juga punya daya elastisitas tertentu sehingga ketika ditekan akan melentur sebelum pada suatu titik jebol. Dorongan tekanan tinggi yang membentur sumbat gunung itulah yang memunculkan frekuensi tinggi yang suara bisingnya hanya bisa didengar hewan tertentu. ”Pada saat itulah hewan-hewan yang tak tahan suara bising ini berlarian turun gunung,” katanya.

Suara berfrekuensi tinggi ini tak bisa didengar manusia. Beda dengan binatang, misalnya, kelelawar atau lebah.

Akankah binatang juga mendengar frekuensi suara tertentu sebelum datangnya gempa dan tsunami? Di Simeulue, kerbau-kerbau selamat.

Ikuti perjalanan Ekspedisi Cincin Api Kompas di http://www.cincinapi.com


Editor : Tri Wahono
Sumber: