Selasa, 2 September 2014

News / Regional

Pasar di Perbatasan Untungkan Warga Timor Leste

Sabtu, 2 Juni 2012 | 07:25 WIB

KEFAMENANU, KOMPAS.com — Pemerintah Timor Leste, khususnya Distritu Oekusi, sangat terbantu dengan dibukanya pasar dan koperasi perbatasan di Desa Napan, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.

"Kami selama ini seperti katak di bawah tempurung karena kami dikelilingi oleh perbatasan dengan Indonesia baik melalui laut maupun darat. Oleh sebab itu, dengan adanya pasar dan koperasi yang dibuka oleh Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kabupaten TTU, maka kami bisa dengan mudah mendapatkan barang dibandingkan sebelumnya," papar Fransisko Bano, Wakil Bupati Distritu Oekusi, Timor Leste, saat menghadiri peresmian pasar dan koperasi, Jumat (1/6/2012).

Menurut Bano, selama ini Distritu Oekusi sepertinya sangat terisolasi karena berada di kantong wilayah Indonesia sehingga untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan pokok, warganya mengharapkan dari Indonesia. Itu pun sering dilakukan melalui jalan tikus alias secara ilegal. 

"Saya pikir ini adalah salah satu solusi yang tepat untuk kedua negara ini sehingga pemimpin kami di pusat juga melihat ini sebagai salah satu hal penting untuk mengurangi perdagangan yang dilakukan secara ilegal yang tentunya berdampak buruk pada warga kedua negara," jelas Bano.

Sementara Bupati TTU Raymundus Fernandes mengatakan, dibukanya koperasi dan pasar perbatasan dimaksudkan untuk membuka lapangan kerja buat semua warga yang berada di garis perbatasan. Diharapkan aktivitas perdagangan ilegal itu segera dihentikan.

"Mulai hari ini, bersama-sama dengan pemerintah Distritu Oekusi, khususnya petugas yang terkait, akan saling koordinasi untuk menggiring warga yang selama ini melakukan aktivitas perdagangan melalui jalan tikus untuk menggunakan koperasi dan pasar perbatasan secara baik dan optimal," jelas Fernandes.

Acara peresmian koperasi dan pasar perbatasan dihadiri oleh beberapa pejabat dari kedua negara, beberapa orang tentara dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan juga dihadiri oleh ratusan warga di sekitar perbatasan.


Penulis: Kontributor Timor Barat, Sigiranus Marutho Bere
Editor : Kistyarini