Sabtu, 2 Agustus 2014

News / Regional

Hortikultura

Harga Bawang Merah Naik

Rabu, 23 Mei 2012 | 00:11 WIB

PROBOLINGGO, KOMPAS.com — Petani bawang merah di Probolinggo, Jawa Timur, saat ini menikmati kenaikan harga setelah sebelumnya terpuruk akibat serbuan bawang impor. Mereka berharap pemerintah membatasi bawang impor sehingga harga bawang merah terus baik.

"Saat ini harga bawang merah sedang baik, yaitu Rp 10.000-Rp 12.000 per kilogram (kg). Ini jelas menguntungkan petani karena sebulan sebelumnya harganya sangat rendah antara Rp 3.000 dan Rp 4.000 per kg," tutur Tarsan, petani bawang merah asal Desa Pabean, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, Selasa (22/5/2012).

Harga saat itu rendah karena bawang merah lokal bersaing dengan bawang merah impor. Menurut Tarsan, harga bawang merah impor rendah, yaitu Rp 4.000-Rp 6.000 per kg karena kualitasnya tidak bagus. "Konsumen cenderung mencari bawang merah dengan harga murah sehingga bawang merah lokal kami pun tidak bisa dijual tinggi," kata Tarsan.

Petani bawang merah lain asal Desa Sumberagung, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, Arjas, mengatakan bahwa saat ini harga bawang merah bagus karena produksi turun. Setiap awal tahun memang produksi bawang merah Probolinggo turun karena faktor cuaca. Seringnya hujan menyebabkan bawang busuk dan rusak di lahan. Hal tersebut mungkin yang menyebabkan harga saat ini membaik. Menurutnya, hal itu bisa jadi juga terjadi karena bawang impor sudah dibatasi.

Arjas mencontohkan, produksi bawang merahnya sebelum ini turun drastis karena hujan. Biasanya lahan satu hektar bisa menghasilkan 15 ton bawang merah. Namun saat musim penghujan beberapa waktu lalu, produksinya hanya 3 ton. "Ini adalah masa-masa emas petani bawang merah. Namun kalau bawang impor kembali masuk, ya sama saja," ujarnya.

Baik Tarsan maupun Arjas berharap bahwa pemerintah membatasi bawang impor. "Saat ini mungkin bawang impor masuk tidak bisa dicegah. Hanya saja, kami meminta impor harus dikurangi agar petani menikmati hasil tanamnya. Kalau hasil tanaman bagus, maka petani akan terus menanam bawang," ujar Tarsan.

Nanang Trijoko, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo, mengatakan bahwa selama ini upaya pembatasan impor hortikultura oleh pemerintah daerah memang belum bisa dilakukan karena merupakan kebijakan pemerintah pusat.  

"Kami di daerah berusaha membantu petani untuk menghasilkan produk pertanian berkualitas bagus agar bisa bersaing dengan produk impor. Salah satu upaya menghasilkan bawang berkualitas bagus adalah dengan memilih bibit bagus," ujar Nanang.

Nanang mengatakan, Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo tahun 2008 telah melepas bawang merah varietas unggul, yaitu bawang merah biru lancor. Bawang merah ini unggul karena aromanya tajam, warna kulit umbi merah gelap, renyah, dan tahan angin. "Terobosan seperti ini dibutuhkan agar petani tetap optimis dan semangat menanam bawang merah, meski terkadang terjadi fluktuasi harga yang merugikan petani," ujar Nanang.

Keberpihakan pemerintah terhadap pertanian hortikultura lokal adalah sesuatu yang penting karena ada kecenderungan petani hortikultura mulai mengurangi lahan dan beralih ke tanaman pangan yang dinilai lebih menguntungkan. Data Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo menunjukkan bahwa luas lahan panen hortikultura secara perlahan terus berkurang dari tahun ke tahun. Tahun 2009, luas lahan panen mencapai 5.201 hektar dengan produksi 545.940 kuintal.

Tahun 2010, luas lahan panen berkurang menjadi 5.049 hektar dengan produksi 452.164 kuintal. Adapun pada 2011, luas lahan panen berkurang menjadi 3.428 hektar dengan jumlah produksi 329.328 kuintal. "Ada penurunan lahan dan produksi untuk komoditas sayuran. Namun, ada kenaikan di komoditas pangan, khususnya beras," imbuh Nanang.

 


Penulis: Dahlia Irawati
Editor : Agnes Swetta Pandia