Selasa, 21 Oktober 2014

News / Regional

Sumber Energi

Batam Defisit Listrik

Senin, 21 Mei 2012 | 23:24 WIB

BATAM, KOMPAS.com - Batam mengalami defisit listrik selama dua bulan hingga Juni 2012, karena kerusakan pembangkit PLN. Akibatnya masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih tinggi, untuk mendapat listrik sendiri.

Manajer Senior Komunikasi PT PLN Batam, Agus Subekti, mengatakan, salah satu pembangkit di unit Panaran rusak sejak awal Mei 2012. Proses perbaikan yang membutuhkan suku cadang dari Eropa, diperkirakan sampai dua bulan.

"Kerusakan itu menyebabkan pasokan berkurang 25 megawatt (MW)," ujarnya, Senin (21/5/2012) di Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

PLN Batam juga harus melakukan perawatan berkala sebagian mesinnya. Akibatnya, pemadaman bergilir tidak dapat dihindari. Untuk sebagian wilayah, pemadaman bisa selama tiga jam.

"Kami mencoba mengatasinya dengan membeli listrik swasta. Sudah dapat 10 MW, jadi masih defisit 15 MW," ujarnya.

Pengoperasian pembangkit Tanjung Kasam Unit I akan dipercepat. Pembangkit berdaya 55 MW ditargetkan beroperasi pada Juni 2012. Sekarang sudah tahap persiapan operasi.

"Kalau sudah beroperasi, cadangan istrik Batam malah surplus. Kami usahakan mulai Ramadhan tidak ada pemadaman di Batam," tuturnya.

Sebagian warga Batam mengeluhkan dampak pemadaman itu. Sebagian dari mereka mengaku menjadi tidak produktif, gara-gara pemadaman siang hari selama berjam-jam.

"Bagaimana mau kerja kalau komputer mati semua. Mana pemadaman tanpa pemberitahuan, mendadak mati saja, ujar warga kawasan Baloi," Fajar Zainal.

Selain menurunkan produktifitas, pemadaman juga membengkakkan biaya usaha sebagian pihak. Mereka harus membeli bahan bakar, untuk mengoperasikan generator sendiri.

"Sekali menyalakan generator perlu sampai lima liter. Seminggu bisa kena sampai tiga kali pemadaman," ujarnya warga kawasan Bengkong, Chandra Gunawan.

Ia harus mengoperasikan generator, untuk memastikan toko ikan hiasnya mendapat pasokan listrik. Jika listrik terhenti, ikan-ikan hiasnya bisa mati dan kerugian bisa lebih besar. "Kalau kejadian seperti ini, tidak ada insentif apa-apa bagi pelanggan. Kalau telat bayar, PLN langsung matikan listrik," tuturnya.

Warga lainnya meminta PLN memastikan benar ketersediaan listrik di Batam. Hal itu mengingat PLN Batam tengah mengkaji penjualan listrik ke Pulau Bintan dan Singapura. Untuk Batam saja bisa kurang kalau ada kerusaka n mesin seperti ini. "Jadi, sebaiknya jangan buru-buru jual listrik ke luar Batam dulu," ujar Markus, warga di Kampung Pelita.

 

 

 


Penulis: Kris R Mada
Editor : Agus Mulyadi