Minggu, 20 April 2014

News / Regional

Tas dan Dompet dari Bungkus Kopi

Minggu, 29 April 2012 | 18:17 WIB

Baca juga

KENDAL, KOMPAS.com - Mempunyai tas, dompet dan taplak meja dari kain atau kulit hewan tentu sudah biasa. Demikian juga jas hujan. Pelindung diri dari air hujan tersebut, juga kebanyakan dari plastik keluaran pabrik yang baik.

Tapi, sudahkan Anda mempunyai tas, dompet, taplak meja atau jas hujan yang terbuat dari rangkaian bungkus plastik minuman suplemen anak-anak atau kopi? Kalau jawabnya belum, cobalah datang ke ibu Rubiyati (53), warga Langgengsari, RT 03 RW II, Desa Plantaran, Kaliwungu Selatan, Kendal, Jawa Tengah.

Nenek empat anak dengan lima cucu ini setiap hari memproduksi limbah plastik bungkus minuman suplemen anak-anak dan kopi. Ia menjualnya dengan harga murah antara Rp 3 ribu hingga Rp 10 ribu untuk tas dan dompet. Sedang, untuk taplak meja ia jual Rp 5 ribu. Dalam sehari ia bisa memproduksi 5 sampai 7 tas.

"Kalau jas hujannya masih bingung memberi harga. Sebab saya masih memproduksi sedikit dan untuk dipakai sendiri," kata Rubiyati yang mengaku sudah lama berprofesi sebagai tukang jahit pakaian.

Ia mulai bereksperimen membuat tas, dompet, taplak meja serta jas hujan ini, setelah pada tahun 2011 diajak oleh pengurus Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat ke semarang untuk melihat beberapa kerajinan yang terbuat dari limbah.

"Setelah itu saya berpikir kalau di tempat kami banyak limbah plastik minuman anak-anak maka saya mencoba membuat barang-barang seperti ini," jelasnya.

Bahan dasar bahan tersebut, aku Rubiyati, didapat dari para penjual es dan kopi. Satu kilo bungkus kopi atau minuman suplemen anak, ia beli dengan harga Rp 3 ribu. Dari bahan satu kilo itu ia bisa membuat tiga tas dan tujuh dompet.  "Kalau untuk taplak meja bisa lima sampai enam, tergantung besar kecilnya," akunya.

Rubiyati mengaku, sehari kerajinannya bisa laku minimal tiga. Yang membeli baru warga sekitar. Ia menitipkannya ke warung-warung tetangga.

"Saya belum bisa menjual ke luar. Ini karena saya baru sendirian membuatnya. Takut kalau banyak pesanan, saya tidak bisa melayani," tambahnya.

Untuk itu, Rubiyati, mencoba menularkan ilmunya kebeberapa ibu-ibu, terutama ibu-ibu PKK. Harapannya, setelah semua bisa, baru akan promosi ke luar.


Penulis: Slamet Priyatin
Editor : Heru Margianto