Sabtu, 25 Februari 2017

Regional

Ribuan Mahasiswa Kepung Balai Kota Malang

Rabu, 28 Maret 2012 | 11:42 WIB

MALANG, KOMPAS.com - Ribuan mahasiswa Malang, Jawa Timur, sejak Rabu (28/3/2012) pagi, mengepung dua kantor pemerintah, yakni gedung DPRD dan Balai Kota Malang. Aksi mahasiswa tersebut terkait penolakan atas rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) 1 April mendatang.

Ribuan mahasiswa tersebut terdiri dari dua organisasi kemahasiswaan,yakni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia, cabang Malang. Aksi dilakukan secara serentak di depan Balai Kota Malang dan depan gedung DPRD Kota Malang.

Pertama demo dilakukan oleh KAMMI. Dalam aksi tersebut, massa KAMMI berusaha untuk menerobos pagar kawat berduri di depan dua kantor itu. Sementara personel kepolisian sudah berdiri dibelakang kawat berduri. Tak ketinggalan juga, pasukan huru-hara bersenjata lengkap juga dikerahkan.

Namun, massa KAMMI tak hanya berorasi. Mereka tetap memaksa menerobos kawat berduri. Bahkan ada yang berhasil merusak kawat berduri yang dipasang sebagai pengaman. Saat sebagian massa aksi KAMMI berhasil merusak pagar kawat berduri, personel kepolisian yang sudah siaga langsung menyemprotkan air ke kerumunan massa aksi.

Saat itu, pendemo berhamburan, sebagain massa aksi lari menghindari siraman air tersebut. "Kita tolak kenaikan harga BBM. Kalau pemerintah mengagalkan kenaikan harga BBM. Presiden SBY harus turun. Saatnya rakyat melakukan revolusi," kata Ketua Umum KAMMI Daerah Malang Raya, Amir Gunawan, dalam orasinya.

Karena suasana aksi terus memanas, perwakilan dari DPRD Kota Malang, Arif Wahyudi, langsung menemui mahasiswa menyampaikan sikap dewan. "Saya sangat mendukung gerakan mahasiswa KAMMI. Hal itu memang aspirasi rakyat," katanya.

Arif Wahyudi menegaskan, pihaknya sebagai wakil rakyat, dari Fraksi PKB, tegas menolak kenaikan harga BBM. "Suara teman-teman mahasiswa akan segera dikirimkan ke pemerintah pusat. Semoga pemerintah pusat mendengarkan aspirasi kita," harapnya.

Kantor dewan dan Balai Kota Malang itu sudah dua hari, dipagar kawat berduri. Hal itu untuk mengamankan aksi mahasiswa yang terlihat semakin anarkis dan brutal. "Saya mohon aksi tidak anarkis. Kami siap mengantarkan aspirasi kalian. Awas provokasi," kata seorang polisi.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Yatimul Ainun
Editor : Glori K. Wadrianto