Senin, 28 Juli 2014

News / Regional

Pertanian

Pengembangan Jagung di Lahan Tandus

Senin, 19 Maret 2012 | 23:52 WIB

SAMOSIR, KOMPAS.com - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mengembangkan pertanian khususnya budidaya jagung di lahan tandus di Pulau Samosir, Sumatera Utara.

Meski jagung ditanam di lahan tandus di atas tanah berbatu bekas letusan gunung berapi, produktivitas tanaman jagung per hektar tinggi, mencapai 8 ton jagung pipilan kering.

Menurut Sekretaris Jenderal HKTI, Benny Pasaribu, Senin (19/3/2012) usai panen jagung perdana di Desa Tolping, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, kdi Jawa, banyak tanaman jagung dengan produktivitas tinggi mencapai 10 ton jagung pipilan kering. Itu bisa terjadi karena lahan pertanian di Jawa subur.

Dengan teknik budidaya yang baik dan benih serta pupuk yang tepat, produktivitas bisa tinggi.

Kondisi ini berbeda dengan di Pulau Samosir, yang umumnya tanah datarnya berbatu. Untuk mencetak lahan pertanian perlu waktu lama, karena harus menyingkirkan bebatuan. Lahan yang tandus dan berbatu ini harus diolah. Waktunya juga tidak singkat. Apalagi sistem pengairannya sebagian besar mengandalkan air hujan.

Meski begitu, dengan kemauan, lahan tandus itu bisa ditanami dengan produktivitas tinggi. Dalam panen perdana di kebun percontohan HKTI di Desa Tolping, misalnya, produktivitas tanaman jagung mencapai 8 ton jagung pipilan kering. Jagung yang ditanam jenis jagung hibrida varietas pertiwi 2 dan pertiwi 3.

Pada kesempatan itu, petani juga diajarkan cara berbudidaya jagung dengan baik, agar menghasilkan produktivitas tinggi, sehingga bisa meningkatkan pendapatan petani jagung.

Para petani juga berharap, kebun percontohan HKTI diperbanyak. Zaintan Nainggolan (66), petani Desa Tolping, Kecamatan Simanindo, menyatakan, keinginan petani menanam jagung hibrida dengan produktivitas tinggi ada, tetapi terbentur keterbatasan modal.

Harga benih jagung hibrida mahal, sementara tingkat kegagalan panen atau resiko gagal panen jagung belakangan ini tinggi. Ini akibat iklim yang terus berubah.

"Kalau banyak hujan petani senang, karena bisa tanam jagung dan panen. Kalau hujan terlalu deras, tinggal membuat aliran air saja. Kondisi sulit pada musim kemarau, karena tanaman kekurangan air dan mati," katanya.

Karena itu, para petani berharap agar harga benih jagung hibrida bisa lebih murah. Petani juga minta harga jual jagung dinaikkan.

Di Samosir, umumnya petani memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar. Lahan tidak dalam bentuk satu hamparan, tetapi terpisah-pisah bukit dan bebatuan. Potensi lahan tandus untuk pertanaman jagung juga masih luas.


Penulis: Hermas Effendi Prabowo
Editor : Agus Mulyadi