Minggu, 26 Oktober 2014

News / Regional

Ke Kaki Galunggung Mereka Kembali

Kamis, 15 Maret 2012 | 06:25 WIB

Terkait

Oleh Hermas E Prabowo dan Mukhamad Kurniawan

KOMPAS.com - Kolam ikan dan sawah menghampar luas di kaki Gunung Galunggung, berseling dengan rumah-rumah warga yang berdiri rapat. Nyaris tak ada lagi jejak kehancuran yang tersisa dari letusan dahsyat Gunung Galunggung 30 tahun silam.

Dulu rumah-rumah, kolam-kolam, dan sawah di desa ini tertutup pasir. Semua kolam dan ikan yang saat itu siap panen terkubur,” Ojoh (90), pembudidaya gurami di Kampung Cihujung, Desa Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, berkisah.

Pada 5 April 1982, Gunung Galunggung meletus hebat. Letusan itu berlangsung sampai sembilan bulan kemudian. Muntahan material letusan, menurut JA Katili dan Adjat Sudrajat dalam bukunya, Galunggung the 1982-1983 Eruption, menutup 600 kilometer persegi lahan dengan sebaran terbanyak di lereng sebelah tenggara. Material yang terlontar 370 juta meter kubik. Lebih dari 63.000 warga di 20 desa mengungsi.

Seluas 1.321 hektar tambak ikan dan 1.816 hektar sawah di kaki Galunggung tertimbun material letusan. Saluran irigasi pun tak bisa dipakai lagi.

Sukaratu, desa sentra budidaya ikan, terkubur material gunung api. Namun, Ojoh tak menyerah. Setiap hari, selama hampir dua tahun sejak Galunggung meletus, Ojoh dan Sopiah (80), istrinya, bolak-balik dari pengungsian ke kolam yang berjarak 10 kilometer. Siang hari keduanya mengeruk pasir, malam hari kembali ke tenda pengungsian di Kecamatan Cisayong.

Setelah pasir dibersihkan, ikan tak bisa segera dibudidayakan. Air kolam terlalu asam buat ikan. ”Butuh waktu 3,5 tahun untuk bisa membudidayakan ikan lagi,” kata Ojoh.

Bagi Ojoh, gurami adalah jalan hidup. Sejak merintis usaha pada 1960-an, Ojoh telah mendapat banyak hasil dari gurami, termasuk keberangkatannya bersama istri ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.

Oleh karena itu, seluruh daya dicurahkan untuk menghidupkan lagi kolam ikannya. Dia bahkan menjual sebagian sawah untuk membiayai pengerukan pasir yang mengubur kolam.

Di atas pasir

Di Kampung Sukaratu, Desa Sukaratu, sampai tahun 1988 atau enam tahun setelah Galunggung meletus belum ada satu sawah pun yang bisa ditanami padi karena pasir belum sempurna disingkirkan.

Adalah Bunyamin yang memulai menanam padi di sawah berpasir. ”Karena lahan berpasir, air terus meresap. Namun, saya tetap mencoba menanam padi,” katanya.

Butuh waktu dua tahun untuk mencetak sawah baru di lahan berpasir. Caranya, jerami sisa panen tak diambil, tetapi ditinggal di sawah sehingga membusuk dan lama-lama air tidak lagi hilang meresap.

Sobirin (70), warga Dusun Cihaseum, Desa Linggajati, tak akan lupa perjuangannya menyingkirkan pasir dari rumah dan sawahnya. Pasir mengubur rumah Sobirin hingga atap. Dengan tekun Sobirin mencangkul pasir, memasukkan ke karung, lalu menyingkirkannya. Sorenya, Sobirin kembali ke pengungsian di Kota Tasikmalaya. Setelah dua tahun, baru rumahnya bersih dari pasir. Itu pun belum bisa ditempati, masih harus diperbaiki.

Tidak semua warga memilih bertahan menghadapi timbunan pasir. Keponakan Sobirin, Ane dan Eming, memilih bertransmigrasi ke Sekayu, Jambi. Pada September 1982, tercatat 2.003 keluarga korban Galunggung bertransmigrasi ke Sumatera dan Kalimantan. Namun, setelah beberapa tahun, Ane dan Eming kembali lagi ke Galunggung. ”Lebih enak di desa ini daripada di Sumatera, cari uang lebih mudah,” kata Ane yang bertahan empat tahun di Jambi.

Membawa berkah

Sejak 1984, kehidupan kembali lebih cepat ke Galunggung. Pasir yang semula menjadi masalah dilirik para pemodal sebagai bahan galian. Melimpahnya pasir gunung dengan kualitas bagus menarik minat swasta untuk berinvestasi.

Bahkan, rel sepanjang 6,5 kilometer dari Pirusa, Desa Sukaratu, ke Babakan Jawa khusus dibangun untuk mengangkut pasir Galunggung, disambung hingga Jakarta. Kereta pengangkut pasir berangkat pertama kali 1 Desember 1983 (Kompas, 3 Desember 1983). Setiap hari, sebanyak 450 ton pasir Galunggung meluncur ke Jakarta untuk memenuhi berbagai proyek, antara lain pembangunan Jalan Raya Cengkareng yang menyedot 50.000 meter kubik pasir. Sampai kemudian, jalur rel khusus itu ditutup.

Kesadaran warga terhadap potensi ekonomi baru dalam bentuk tambang pasir mulai bangkit. Warga setempat turut mengeksploitasi pasir. Mereka menggali pasir dan menjual dengan pola bagi hasil. Untuk setiap truk pasir, pemilik lahan mendapat bagian Rp 2.000 dan penggali mendapat Rp 3.000.

Pasir sisa letusan perlahan menghilang. Sawah-sawah lebih cepat terbuka, warga pun mulai bertani dan membudidayakan ikan. Namun, penambangan pasir terus berlangsung. ”Penambangan pasir bermasalah karena merusak sebagian dam yang menjadi benteng aliran lahar,” kata Akhmad Zaenuddin, geolog dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Warga tak mau beranjak dari kaki Galunggung. Jutaan ton pasir yang mengubur kampung dan membuat mereka harus mulai dari titik nadir tak mengurungkan niat mereka untuk tinggal di bawah bayangan Galunggung.

Namun, kembalinya warga tidak diikuti dengan penataan ruang dan pemeliharaan infrastruktur, seperti kantong lahar untuk menghadapi letusan Galunggung berikutnya.(Indira Permanasari/Ahmad Arif)


Editor : Tri Wahono
Sumber: