Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 12:55 WIB
Klub Jalan Kaki
Cara Lain Menilik Surabaya
| Inggried Dwi Wedhaswary | Minggu, 26 Februari 2012 | 09:36 WIB
|
Share:
KOMPAS/IDHA SARASWATI WAHYU SEJATI Peserta klub jalan kaki Manic Street Walkers menyeberang jalan saat menyusuri jalanan Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (21/2). Kegiatan berjalan kaki keliling kota ini dilakukan secara rutin dengan mengambil rute yang berbeda-beda.

KOMPAS.com - Di balik derap kota yang bergegas, di Kota Surabaya, Jawa Timur, muncul klub pejalan kaki yang rutin mengadakan perjalanan keliling kota. Dalam gerak pelan, mereka menemukan banyak kejutan dari detail kota yang selama ini luput dari perhatian.

Klub itu bernama Manic Street Walkers (MSW), yang artinya para penggemar berat jalan kaki. Klub ini dibentuk para maniak jalan kaki yang kerap berkumpul di Perpustakaan C20, sebuah perpustakaan alternatif di Kota Surabaya. Anggotanya mulai dari mahasiswa hingga karyawan.

Selasa (22/2) sore, belasan anggota klub jalan kaki MSW beranjak dari Perpustakaan C2O di Jalan Dr Cipto, Kota Surabaya. Sore itu mereka memilih rute pendek dengan waktu tempuh pergi pulang sekitar 1 jam. Mereka berkeliling di sekitar kompleks perumahan Darmo yang memiliki banyak koleksi rumah tua peninggalan Belanda.

Kebetulan beberapa pesertanya mahasiswa Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh (ITS) Nopember Surabaya. Mereka tergabung dalam komunitas Kami Arsitek Jengki (KAJ), wadah tukar-menukar informasi seputar arsitektur.

Faisal Rizaldy, anggota KAJ, menuturkan, gaya arsitektur jengki biasanya ditemukan pada rumah-rumah yang dibangun pasca-kemerdekaan hingga tahun 1960-an. ”Gaya ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap bangunan bergaya kolonial,” katanya.

Tidak ada patokan khusus untuk gaya arsitektur ini. Biasanya rumah bergaya jengki dikenali dari fasadnya yang tidak tidak mengikuti pola tertentu.

Peserta lain yang baru mendengar istilah arsitektur jengki penasaran mencari bangunan yang mewakili gaya tersebut. Setelah melewati sejumlah rumah bergaya kolonial, akhirnya mereka menemukan rumah bergaya jengki di Jalan Untung Suropati.

Rumah berlantai dua bercat putih itu terlihat cantik. Dari seberang pagar rumah, anggota KAJ menjelaskan alasan rumah itu dimasukkan dalam kategori jengki. Tak lain karena bentuk atapnya yang melengkung-lengkung. Lengkungan tidak bertemu dengan bangunan di bawahnya sehingga tampak menggantung di udara.

Rumah bergaya jengki selanjutnya ditemukan di Jalan Dr Sutomo. Ny Subandi, pemilik rumah yang berusia 84 tahun, bersedia berbagi cerita dengan para tamu itu. Menurut dia, seorang warga negara asing pernah berminat membeli rumahnya. Namun, ia tidak mau melepaskan rumah itu. ”Saya mulai menempati rumah ini tahun 1960, waktu bapak (suami) mulai ditugaskan di Surabaya. Kami keluarga tentara,” jelasnya.

Acara jalan kaki MSW selalu bertema. Sebelum jalan kaki edisi arsitektur, peserta jalan kaki pernah mengikuti acara serupa dengan tema dan rute yang berbeda. Ada yang melewati perkampungan pinggir kali, ada pula dari kelenteng ke kelenteng.

Tidak ada jadwal yang teratur untuk mengadakan acara jalan kaki keliling kota ini. Mereka bisa menggelar acara itu setiap saat, sesuai mood.

Anitha Silvia, penggagas gerakan ini menuturkan, dari setiap kegiatan mereka bertemu dengan banyak kejutan. Ia rajin menuliskan pengalaman jalan kaki itu dan membagikan ceritanya melalui jejaring sosial.

Dalam perjalanan menelusuri kelenteng-kelenteng tua di Kota Surabaya, misalnya, mereka melewati sejumlah perkampungan padat. Di sini mereka bertemu penyedia jasa sedot WC yang menggunakan gerobak.

Mereka juga melewati gang tempat rumah tokoh pergerakan kemerdekaan HOS Cokroaminoto. Di situ Soekarno muda pernah indekos.

Peserta MSW, Bagus Dwi, mengaku tertarik bergabung karena suka jalan-jalan. ”Sekalian berolahraga,” ujarnya.

Ini adalah klub murah meriah. Siapa pun bisa bergabung. Jangan lupa membawa air minum dan mengenakan alas kaki yang nyaman. (IDHA SARASWATI)

Sumber :
Kompas Cetak