Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 12:50 WIB
Rumah Ambruk, Pasutri Lumpuh Ini Hidup Sebatang Kara
Ahmad Faisol | Aloysius Gonsaga Angi Ebo | Minggu, 26 Februari 2012 | 00:25 WIB
|
Share:
Ahmad Faisol Ponijo tak bisa berjalan setelah mengalami kecelakaan pada Juli 2011 silam, setelah menjadi korban tabrak lari sepeda motor di jalan desa setempat. Betis kirinya patah. Dia pun bergantung pada kursi roda.

PROBOLINGGO, KOMPAS.com - Miskin, tanpa famili, lumpuh, dan tak punya tempat tinggal. Inilah nasib pasangan suami istri (pasutri) Ponijo (75) dan Aminah (70).

Pasutri yang tinggal di Desa Jorongan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, itu tampaknya harus menghadapi ujian berat dalam sisa hidup mereka. Penderitaannya semakin lengkap setelah terancam kehilangan tempat tinggal, akibat rumah yang mereka diami bertahun-tahun ambruk disapu angin dan diterjang hujan beberapa waktu lalu.

Mereka diselamatkan warga saat rumah hampir ambruk. Sejak itu, mereka pindah-pindah dari satu rumah tetangga ke rumah tetangga yang lain. Beruntung, ada yang berbaik hati. Perangkat desa setempat membuat salah satu ruangan berukuran 3x4 meter di kantor desa sebagai tempat tinggal sementara pasutri malang ini.

Ponijo dan Amina adalah pasangan lumpuh. Ponijo tak bisa berjalan akibat mengalami kecelakaan pada Juli 2011 silam, setelah menjadi korban tabrak lari sepeda motor di jalan desa setempat. Betis kirinya patah. Dia pun bergantung pada kursi roda.

Adapun Amina, sejak 2004 lalu, mengalami stroke walau bisa berjalan, meski harus berpegangan ke dinding atau apapun di dekatnya. Kemudian sejak 2007, ia mengalami lumpuh total. Tak ayal, hidupnya dihabiskan di ranjang.

Ruangan kantor balai desa yang menjadi tempat tinggal sementara mereka menimbulkan bau tak sedap. Maklum, segala aktivitas Aminah di atas ranjang, termasuk BAB dan buang air kecil.

Aminah mengaku, dirinya berasal dari Tanggul, Kabupaten Jember. Di Jember, ia memiliki banyak saudara. Akan tetapi, kehadiran Amina dan suaminya Ponijo, rupanya tidak diterima. Alasannya tidak punya tempat. Yang asli warga Jorongan adalah suaminya. Namun, Ponijo tidak memiliki saudara di desa ini. Dengan demikian, pasutri ini tidak memiliki sanak famili di Jorongan.

Ponijo dan Amina sangat beruntung memilik tetangga yang baik hati. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya di kantor desa, warga sekitar secara sukarela mengirimkan makan an. Baju kotor milik keduanya juga dicucikan warga, termasuk untuk urusan mandi dan membersihkan kotoran keduanya.

Menurut Abdullah Sidik, perangat Desa Jorongan, pemerintah desa tengah mengajukan bantuan ke Pemkab bagi pasutri tersebut. "Harapannya, Pemkab bisa membangunkan rumah bagi Ponijo dan Amina dengan program bedah rumah," katanya, Jumat (24/2/2012).

Tapi Susilo, Kasi Kesra desa setempat, mengatakan Kasi Kesra Kecamatan Leces pernah datang melihat kondisi pasutri Ponijo dan Amina akhir 2011 lalu. Saat itu, direncanakan mengirim keduanya ke panti jompo. Tapi mereka ditolak karena lumpuh.

Sementara Kepala Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo Erlin Setiawati via SMS kepada Kompas.com mengatakan, kedua pasutri itu akan dibangunkan rumah. "Dibangunkan rumah (oleh) Dinsos bekerja sama dengan BAZ," katanya.