Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 12:47 WIB
Kerusakan Lingkungan
Pantai Timur Bangka yang Kian Muram
Irene Sarwindaningrum | Agus Mulyadi | Sabtu, 25 Februari 2012 | 20:15 WIB
|
Share:
Kompas/Irene Sarwindaningrum Pemandangan pantai Tanjung Pesona yang dihiasi gugusan batu granit berusia ribuan tahun di Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung, Sabtu (25/2/2012). Di kejauhan, tampak deretan tambang timah apung dan kapal isap yang mengepulkan asap hitam, dan terus menerus mengeluarkan limbah tailing berupa campuran lumpur dan pasir yang membuat air laut keruh.

SUNGAI LIAT, KOMPAS.com - Pariwisata di sepanjang pantai timur Pulau Bangka terancam hancur, seiring maraknya aktivitas tambang timah lepas pantai.

Wisatawan mancanegara pun tak pernah ada lagi sejak tiga tahun ini. - Tomo

Geliat wisata di pantai-pantai berpasir putih dengan gugus-gugus batu granit berusia ribuan tahun itu, kian lesu sejak beroperasinya kapal-kapal isap dan puluhan tambang apung di lepas pantai kawasan tersebut. Saat ini jumlah wisatawan pun menurun drastis.

Seperti terpantau pada hari Sabtu (25/2/2012) ini, tak satu pun wisatawan terlihat di pantai-pantai di Kecamatan Sungai Liat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Keindahan pantai terganggu oleh kegiatan puluhan tambang inkonvensional apung, dan setidaknya tiga kapal isap produksi yang beroperasi sekitar satu mil dari bibir pantai.

Kapal isap dan tambang-tambang apung itu terlihat beroperasi dari Pantai Rebo, Pantai Tikus, hingga Pantai Tanjung Pesona yang merupakan lokasi wisata.

Dari pantai, deru motor isap yang digunakan tambang-tambang timah apung terdengar begitu keras, sehingga debur ombak tak terdengar lagi. Limbah tailing berupa sedimen pasir bercampur lumpur yang dihasilkan, pun terlihat membuat keruh perairan di sekitarnya.

Belum lagi kepulan asap hitam yang membumbung dari tambang-tambang apung itu menodai langit dan laut, yang didominasi warna biru dan putih. 

Di sekitar pantai, aktivitas tambang-tambang timah di darat pun meninggalkan kerusakan lingkungan parah berupa lubang-lubang menganga, di antara pohon-pohon pinus pantai yang masih tersisa.

Pegawai hotel Tanjung Pesona Resort, Tomo (44), mengatakan, jumlah wisatawan di Pantai Tanjung Pesona telah sangat berkurang. Jumlah kunjungan tamu ke hotel tersebut turun hingga 60 persen, sejak kehadiran kapal isap dan tambang-tambang apung sekitar tahun 2007 lalu.

Sebelumnya, jumlah pengunjung hotel yang cukup mewah itu mencapai lebih dari 1.000 orang setahun, kini tinggal sekitar 400 orang setahun. 

"Wisatawan mancanegara pun tak pernah ada lagi sejak tiga tahun ini. Padahal dulu setidaknya ada enam kunjungan setahun," katanya.

Menurut Tomo, wisatawan mengeluh air laut yang keruh dan kebisingan suara motor isap. "Kami sudah melapor ke Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka, tetapi belum ada perubahan," katanya.

Kondisi ini tentunya membuat para pelaku usaha wisata di kawasan itu kian muram. Saat ini mereka hanya bisa pasrah, tanpa memiliki kepastian akankah wisatawan akan meramaikan pantai-pantai mereka lagi.

Keindahan pantai-pantai timur Pulau Bangka yang tenang dan jernih itu, kini seolah tinggal kenangan.