PALANGKARAYA, KOMPAS.com - Pohon ulin saat ini terancam punah, karena sulitnya pembudidayaan tanaman itu dan pertumbuhan yang sangat lambat. Diperlukan kawasan khusus untuk penanaman pohon yang tumbuh di Kalimantan dan sebagian Sumatera tersebut .
Pembantu Dekan III Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya, Cakra Birawa, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu (25/2/2012), mengemukakan, lambatnya pertumbuhan ulin ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan diameter pohon. Pertumbuhan itu rata-rata hanya 0,058 sentimeter (cm) per tahun.
"Bandingkan dengan pertumbuhan rata-rata diameter pohon meranti misalnya, lebih kurang 1 cm per tahun, bahkan 2 cm dengan perlakuan khusus," tuturnya.
Selain itu, perkembangbiakan ulin tak bisa dilakukan dengan cepat. Buah ulin memiliki cangkang keras.
"Tak heran proses perkecambahan ulin lambat. Selain dikikir, perkecambahan bisa dipercepat dengan menggoreng. Buah digoreng bukan dengan minyak tapi pasir," kata Cakra.
Cakra menjelaskan, buah ulin berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 1 5 cm dan diameter sekitar 7 cm.
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kalteng, Sipet Hermanto, menambahkan, dari luas hutan di Kalteng sekitar 10,25 juta hektar (ha), belum ada kawasan khusus yang menjadi konsentrasi tempat tumbuhnya ulin. Luas kawasan hutan itu sebesar 67 persen dari seluruh provinsi sekitar 15,3 juta ha.
Budidaya ulin di Kalteng, ungkap Cakra, belum menunjukkan hasil yang cukup baik. Budidaya sudah pernah dicoba beberapa perusahaan kehutanan, tetapi hasilnya belum signifikan.
Disnas Kehutanan Kalteng berencana menyediakan kawasan khusus sebagai tempat tumbuhnya ulin di Kabupaten Kasongan.

