Senin, 22 Desember 2014

News / Regional

Pariwisata

Air Dingin, Obyek Wisata di Aceh Selatan

Sabtu, 25 Februari 2012 | 14:01 WIB

TAPAK TUAN, KOMPAS.com - Beberapa anak kecil asyik mandi di dekat bebatuan air terjun Air Dingin yang berada di Desa Lhok Pawuh, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, Sabtu (25/2). Sementara ibu-ibu sibuk mencuci pakaian di dekat mereka.

Seperti namanya, kondisi air yang mengalir dari Pegunungan Leuser itu terasa segar di kulit. Air terjun itu tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 20 meter. Selain untuk beraktivitas sehari-hari, airnya juga dimanfaatkan sebagai air minum bagi warga di empat desa di dekatnya.

Tarmizi Jamal, Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Aceh Selatan, mengatakan, obyek ini dikunjungi ribuan orang dalam setahun, sebagian di antaranya wisatawan asing.

"Ini adalah salah satu dari sejumlah air terjun yang ada di wilayah Aceh selatan. Lainnya seperti Simpali direncanakan akan dipakai adventure tahun depan," ujarnya.

Keberadaan air terjun Air Dingin yang berjarak sekitar 50 meter dari pantai yang juga memiliki nama Air Dingin, tak lepas dari legenda yang berkembang di masyarakat setempat. Air terjun itu dianggap merupakan salah satu tempat permandian putri naga.

Konon di daerah itu ada sepasang naga. Suatu hari puteri tersebut dibuang orangtuanya ke tepi pantai. Sang puteri kemudian ditemukan dan dipelihara oleh sepasang naga. Suatu hari ada nakhoda kapal yang melihat sang puteri bermain di pantai. Sang puteri pun diambil  nahkoda tersebut.

Mendapati anak angkatnya tidak ada, sepasang naga ini kemudian marah dan mencarinya. Melihat puteri ada dalam kapal, naga pun akhirnya berkelahi dengan nakhoda. Perkelahian membuat air laut bergolak dan membahasai seorang yang sedang bersemedi benama Tengku Tuan Tapa.

Tuan Tapa memisahkan perkelahian itu. Tubuh naga rupanya terkena pukulan. Sang naga yang luka akhirnya lari.

Menurut masyarakat, seekor naga akhirnya mati dan seekor lainnya melarikan diri setelah menabrak dan membelah pulau menjadi dua yang sekarang dinamakan Pulau Dua.

Kini bekas hati, darah, dan sisik naga, juga menjadi nama daerah, seperti Desa Batu Merah, Desa Batuhitam, dan Kota Naga.

Di daerah itu pun ada bekas tapak kaki di batu berukuran besar dan makam yang diyakini punya Tuan Tapa.


Penulis: Defri Werdiono
Editor : Agus Mulyadi