Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 11:52 WIB
Aksi Buruh
Buruh Mengurung Manajemen
Kris R Mada | Agus Mulyadi | Jumat, 24 Februari 2012 | 23:15 WIB
|
Share:
KOMPAS/KRIS R MADA Untuk melindungi diri dari sengatan panas, para buruh PT Sanmina SCI Batam dalam aksinya hari ini, Jumat(24/2/2012), mendirikan tenda di depan gerbang pabrik di Batam.

BATAM, KOMPAS.com - Buruh PT Nutune Batam dan PT Sanmina SCI mengurung manajemen di kompleks pabrik yang terletak di kawasan Industri Batamindo, Batam, Kepulauan Riau.

Buruh Nutune mengurung manajemen pada Kamis (23/2/2012) malam. Sementara buruh Sanmina melakukan aksi serupa pada Jumat (24/2) malam ini. 

 

Pengurungan di Nutune bermula dari tuntutan pesangon di pabrik komponen elektronik itu. Para buruh mendengar pabrik akan ditutup pada awal Maret 2012. "Manajemen meminta kami mendaftar untuk menerima pesangon dengan formula 1N (satu kali masa kerja)," ujar salah seorang pekerja, Putu.  

 

Tawaran itu ditolak buruh, yang menghendaki pesangon setara dua kali masa kerja. Untuk dua kali masa kerja, total pesangon bagi 400 pekerja tetap dan 200 pekerja kontrak dibutuhkan hingga Rp 44 miliar. Sementara perusahaan hanya mampu menyediakan maksimal Rp 22 miliar, atau setara satu kali masa kerja.  

 

Karena perbedaan nilai itu, pembicaraan soal pesangon buntu. Dampak kebuntuan itu, mendadak buruh berkumpul di pabrik pada Kamis sore. Mereka mengunci seluruh jalan masuk.  

 

Hal itu itu menyebabkan sebagian manajemen terkunci di dalam pabrik. Mereka terkurung sampai sekitar pukul 23.00 WIB. Mereka bisa keluar setelah dievakuasi oleh polisi.  

 

Sementara di pabrik PT Sanmina, pengurungan bermula dari unjuk rasa sejak Kamis sampai dengan Jumat ini. Unjuk rasa pada hari Kamis hanya diisi dengan orasi dan bernyanyi bersama. Sementara pada Jumat pagi, buruh mencoba mendobrak gerbang depan pabrik yang ditutup sejak Kamis pagi.  

 

Karena tidak bisa masuk kompleks pabrik, akhirnya buruh menutup semua akses. Gerbang depan, pintu samping dan belakang dihadang. Mereka mencegah manajemen masuk atau keluar pabrik.  

 

Di gerbang depan, para buruh mendirikan tenda. Sementara pintu samping dan belakang dijaga oleh beberapa buruh. Penghadangan itu berlangsung sampai sore.  

 

Aksi buruh Sanmina itu untuk menyampaikan tiga tuntutan. "Kami meminta manajemen membayar selisih upah dengan UMK 2012 sebesar Rp 222.000. Kami juga meminta tunjangan perumahan maksimal Rp 700.000 dan perbaikan sistem penilaian kinerja," ujar koordinator buruh, Darmo Juwono.  

 

Tuntutan itu sudah disampaikan lewat beberapa kali perundingan. Namun, perundingan-perundingan itu gagal menghasilkan kesepakatan. Akibatnya, para buruh berdemonstrasi sejak dua hari terakhir.