MANOKWARI, KOMPAS.com - Dana Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dijanjikan pemerintah pusat cair pekan ini, belum juga diterima Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.
Padahal salah satu kegiatan rekonstruksi yang paling mendesak adalah penyediaan hunian tetap bagi pengungsi yang masih tinggal di hunian sementara.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Teluk Wondama, Tony Marani, Jumat (24/2/2012), mengatakan, pencairan dana rehabilitasi-rekonstruksi Wasior molor dari jadwal yang dijanjikan pemerintah pusat.
Awalnya, dijanjikan dana senilai Rp 239 miliar ditransfer ke rekening Pemkab Teluk Wondama dan Pemprov Papua Barat, Senin (20/2/2012). Tetapi sampai akhir pekan ini belum ada kepastiannya .
Alasannya, pemerintah pusat meminta agar Pemkab Teluk Wondama merevisi lagi rencana program rehabilitasi-rekonstruksi yang sudah ada. Ada beberapa kegiatan rekonstruksi telah ditangani oleh pihak ketiga, seperti pembangunan dua sekolah dasar dan satu puskesmas pembantu.
Apabila revisi program sudah dibuat, dana rehabilitasi-rekonstruksi tahun anggaran 2011 itu akan dicairkan. Pusat minta data program rehabilitasi-rekonstruksi direvisi lebih dulu, baru dananya dicairkan. " Dalam waktu 1-2 hari ini, kami selesai merevisi datanya," kata Tony.
Pemkab Teluk Wondama berencana ke Jakarta, Senin (27/2/2012), guna melaporkan revisi data kegiatan rehabilitasi-rekonstruksi kepada pemerintah pusat. Selain kegiatan yang direvsi, pemda juga melaporkan perubahan lokasi dan jumlah hunian tetap yang dibangun. Rencana awal, hunian tetap dibangun di Distrik Naikere.
Karena terlalu jauh, sekitar 56 kilometer dari Kota Wasior, lokasi hunian tetap dialihkan ke empat lokasi baru di sekitar hunian sementara, yakni di Kampung Kuras,Maimari, Rakwa, dan Kabo. Lahan di empat lokasi itu telah dibuka dan siap dibangun 475 unit rumah.J umlah keluarga yang berhak mendapatkan hunian tetap, sekitar 900 keluarga.
Tony menegaskan, dana ini sangat dibutuhkan, terutama untuk membangun hunian tetap. Sekitar 400 keluarga dari 900-an keluarga korban banjir bandang Wasior, tidak memiliki tempat tinggal selain di hunian sementara. Sementara 500-an keluarga lainnya, tinggal di luar hunian sementara, yakni di rumah kerabat keluarga atau membangun rumah tidak permanen di sekitar pasar Kota Wasior.
Jika tidak segera dicairkan, 400 keluarga yang bertahan di hunian sementara terancam tidak memiliki tempat tinggal. Batas pinjam pakai lahan hunian sementara kepada pemilik hak ulayat hanya dua tahun, sampai Oktober 2012. Tersisa delapan bulan untuk membangun 475 huntap. Pembangunan sisanya dilakukan tahun depan.
Kepala Bidang Bantuan Sosial Dinas Sosial Teluk Wondama, Ichsanudin, mengatakan, pengungsi akan dilibatkan dan diberdayakan dalam pembangunan huntap. Dengan begitu, tercipta lapangan kerja yang dibutuhkan pengungsi yang tidak punya pekerjaan tetap. Hal ini merupakan bagian dari pemberdayaan ekonomi dalam kegiatan rehabilitasi-rekonstruksi masyarakat Wasior.

