Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 11:40 WIB
Batik Penggaron, Inspirasi Batik dari Hutan
Syahrul Munir | I Made Asdhiana | Jumat, 24 Februari 2012 | 19:42 WIB
|
Share:
SYAHRUL MUNIR Seorang pekerja tengah menyelesaikan proses batik cap. Di galeri Adesty Batik ini juga membuka diri untuk yang berminat belajar membatik.

UNGARAN, KOMPAS.com - Alam memberikan banyak inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya seni. Hutan Penggaron misalnya. Di tangan Adisty (50) belantara hutan Penggaron bisa menginspirasinya membuat corak batik yang khas. "Saya berusaha mengeksplor flora yang ada di alas Penggaron seperti pinus, cemara, mahoni, bunga kasturi, lompong dan yang lainnya ke dalam corak batik saya,'' ungkap ibu dua orang anak ini, Jumat (24/2/2012) di rumah sekaligus galerinya di Jl Panjaitan III A Ungaran, Jawa Tengah.

Adisty mengatakan hingga saat ini ia telah mencipta tidak kurang dari 110 corak batik. "Dari seratusan potong batik yang sudah kami buat, tiap persepuluhnya adalah corak dan motif yang berbeda. Jadi semua produk adalah limited,'' terangnya.

Batik Penggaron dijamin tidak luntur karena menggunakan kain dan obat pewarna yang berkualitas. "Semua bahan dari grade yang tinggi. Dijamin tidak luntur dan harganya bersaing di kelasnya.'' kata Adisty.

Meski produksinya baru dimulai empat bulan yang lalu, namun kehadirannya sudah memikat hati para penggemar batik, khususnya di Jawa Tengah. Bahkan Bupati Semarang Mundjirin dalam berbagai kesempatan, menurut Adisty, sering terlihat mengenakan batik buatannya.

Saat ini Adisty dibantu sembilan pekerja mampu menghasilkan dua sampai tiga kodi batik perhari. Satu kodi terdiri dari 20 lembar kain batik. "Khusus batik tulis prosesnya cukup lama, 15 sampai 30 hari tergantung kerumitan motifnya,'' jelasnya.

Satu lembar batik untuk jenis cap dijual mulai harga Rp 180 ribu. Kombinasi batik tulis dan cap dijual diatas Rp 250 ribu dan batik tulis dijual mulai Rp 500 ribu. "Saya menghindari batik printing. Selain limbahnya ganas juga mematikan tenaga kerja karena semua dikerjakan oleh mesin,'' terangnya.

Sukses dengan motif "Alas Penggaron" tak membuat Adisty berpuas diri. "Saat ini saya sedang mengeksplor Candi Gedong Songo untuk motif batik saya,'' tambahnya.